Umat Hindu Khidmat Rayakan Hari Raya Galungan di Pura Agung Waso Giri Natha Ruteng

  • 18 Jun 2026 08:07 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Ratusan umat Hindu di Ruteng, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, melaksanakan persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Agung Waso Giri Natha, Rabu, 17 Juni 2026. Perayaan ini diperingati setiap enam bulan sekali menurut kalender Bali.

Perayaan yang dimulai tepat pukul 11.30 WITA ini menjadi momentum sakral bagi sekitar 115 umat Hindu di Ruteng untuk merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) atas Adharma (kejahatan). Umat tampak mengikuti rangkaian ibadah dengan penuh khidmat melambungkan puja-puji syukur denan khusyuk.

Pantauan RRI, nuansa kebersamaan begitu terasa, karena umat yang hadir berasal dari berbagai latar belakang profesi, mulai dari anggota TNI-Polri, ASN, dosen, guru, dokter, pegawai PLN, perbankan, hingga karyawan swasta. Umat terdiri dari anak-anak, remaja, hingga orang tua yang memadati area pura tampak serasi mengenakan busana adat sembahyang serba putih sebagai simbol kesucian pikiran dan hati.

Masing-masing membawa sesajen yang ditata rapi di atas anyaman, disertai kepulan asap dupa sebagai sarana penghantar doa kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Prosesi persembahyangan yang dipimpin langsung oleh Jro Mangku Wayan Sudiana ini berjalan dengan sangat khyusuk.

Usai sembayang, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Manggarai, I Gede Caya Widiarta, mengatakan Hari Raya Galungan merupakan hari suci umat Hindu yang melambangkan kemenangan Dharma atau kebenaran melawan Adharma, yakni kejahatan dan ketidaktahuan.

Menurutnya, perayaan yang dirayakan setiap 210 hari sekali ini menjadi momentum penting bagi umat Hindu untuk melakukan introspeksi diri, memperkuat spiritualitas serta memanjatkan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala karunia alam semesta yang telah memberi kehidupan bagi umat manusia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat dua sifat alami, yakni sifat dewa dan sifat raksasa. Sifat dewa mencerminkan kebijaksanaan, kejujuran, kerendahan hati, kesetiaan, serta berbagai perilaku baik lainnya yang menjadi pedoman dalam kehidupan.

Sementara sifat raksasa menggambarkan sifat-sifat negatif seperti amarah, keserakahan, egoisme, dan ketidakjujuran. "Dari kekurangan-kesempurnaannya inilah muncul-muncul yang disebut dengan sifat-sifat raksasa: sifat-sifat di luar kebenaran, iri, dengki, nafsu, korup. Ini yang harus disadari," katanya.

Ia juga menekankan bahwa momentum Galungan ini harus dimanfaatkan oleh umat untuk mengendalikan diri dengan cara memperbaiki perilaku, meningkatkan kinerja, serta menjaga kesucian pikiran dan ucapan demi menumbuhkan sifat-sifat dewa tersebut.

Sementara, esensi utama dari perayaan ini terletak pada kemenangan spiritual melalui penyatuan kekuatan rohani agar manusia berjiwa jernih dan mampu memilah perbuatan baik serta buruk dalam keseharian. "Dan pada saat perayaan Galungan, momen ini dipakai. Untuk apa? Untuk meningkatkan semua perilaku, meningkatkan semua kerja, meningkatkan pikiran, ucapan untuk membangun sifat-sifat dewa," katanya.

Selain itu, perayaan ini juga sarat akan nilai luhur Tri Hita Karana, yakni kewajiban menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama serta hubungan manusia dengan alam lingkungan sekitar. Ia menambahkan bahwa segala bentuk evaluasi diri ini pada akhirnya bertujuan untuk mendukung keberlanjutan kerja dan kontribusi positif umat bagi negara, masyarakat, maupun keluarga.

Ia berharap agar nilai-nilai tersebut diharapkan dapat terus diimplementasikan guna meningkatkan kualitas pribadi dan martabat umat, sekaligus memperkuat relasi sosial demi terwujudnya kerukunan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama di tengah masyarakat.

"Dan semuanya ini tertuju pada apa? Pertama, mensyukuri tentang hidup. Kemudian, kita melanjutkan upaya-upaya, kerja-kerja kita yang baik untuk apa? Untuk negara, untuk masyarakat dan untuk keluarga," ungkapnya.

Masih dalam rangkaian sembahyang, pemimpin ibadah kemudian memberikan tirta atau air suci kepada seluruh umat yang hadir. Air suci tersebut kemudian diusapkan ke wajah dan kepala sebagai simbol penyucian diri, sebelum diminum sesuai dengan tata cara peribadatan umat Hindu.

Seluruh rangkaian ibadah diikuti oleh umat dengan penuh penghayatan, cerminan atmosfer religius yang damai dalam suasana kekeluargaan yang erat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....