Manggarai Barat Terapkan Drone untuk Kendalikan Hama Wereng Coklat

  • 10 Jun 2026 16:45 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat mulai menerapkan teknologi drone pertanian dalam Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) guna mengendalikan serangan hama wereng batang coklat di wilayah setempat.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat, Tarsi Gonza, mengatakan penggunaan drone dilakukan menyusul laporan serangan hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) yang menyerang lahan persawahan milik Kelompok Tani Handel di Desa Compang Longgo, Kecamatan Komodo.

Menurut Tarsi, serangan hama tersebut telah mencakup areal persawahan seluas 25 hektare dan berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih luas apabila tidak segera ditangani.

“Jika penanganannya terlambat, hal ini bisa berdampak pada kerusakan parah hingga terjadi puso atau gagal panen sehingga produksi pangan tahun ini dapat terganggu,” kata Tarsi dalam dialog bersama RRI Labuan Bajo, Selasa 9 Juni 2026.

Dirinya juga menyampaikan, pemanfaatan drone penyemprot atau sprayer drone dinilai lebih efektif dibandingkan metode penyemprotan manual. Selain mempercepat proses pengendalian hama, teknologi tersebut juga mampu menghemat tenaga kerja dan biaya operasional.

Lebih lanjut, Tarsi menyebutkan, penyemprotan lahan seluas 25 hektare yang biasanya membutuhkan waktu lebih dari satu minggu secara manual kini dapat diselesaikan hanya dalam waktu tiga hingga empat jam menggunakan drone.

Selain itu, penggunaan drone dinilai mampu menjaga kualitas tanaman padi karena petugas tidak perlu masuk ke petakan sawah yang berisiko merusak tanaman akibat terinjak saat proses penyemprotan.

Kendati demikian, ia mengakui teknologi tersebut lebih efektif diterapkan pada hamparan sawah yang luas dan kurang efisien digunakan pada lahan yang sempit.

Tarsi juga menjelaskan bahwa pengoperasian drone pertanian memerlukan keterampilan khusus. Operator wajib mengikuti pelatihan dan memiliki lisensi resmi sebelum dapat mengoperasikan perangkat tersebut.

“Saat ini baru ada dua orang Penyuluh Pertanian Lapangan yang telah tersertifikasi untuk menerbangkan drone pertanian di Manggarai Barat,” ujarnya.

Karena nilai investasi perangkat yang cukup tinggi serta risiko kerusakan apabila terjadi kesalahan teknis, pengoperasian drone masih dipusatkan di tingkat dinas untuk menangani kondisi darurat seperti serangan hama.

Meski begitu, Dinas Pertanian Manggarai Barat berkomitmen untuk terus memperkenalkan teknologi pertanian modern kepada petani agar pemanfaatannya semakin luas di masa mendatang.

Penerapan teknologi drone ini juga diharapkan dapat menarik minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Menurut Tarsi, kebutuhan pangan di Labuan Bajo terus meningkat seiring berkembangnya sektor pariwisata sehingga peluang usaha di bidang pertanian masih terbuka lebar.

Ia menegaskan sektor pertanian akan tetap menjadi bidang yang strategis karena kebutuhan pangan tidak dapat tergantikan oleh perkembangan teknologi.

“Kami berharap anak-anak muda melihat peluang ini, kembali mengoptimalkan lahan yang ada, dan bangga menjadi petani,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....