Jamal, Saat Ibu Menjadi Segalanya bagi Keluarga

  • 08 Jun 2026 16:47 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende — Merantau ke Malaysia masih menjadi pilihan banyak kepala keluarga di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Namun di balik harapan memperoleh penghasilan dan meningkatkan kesejahteraan keluarga, tersimpan kisah yang jarang terlihat. Ada perempuan-perempuan yang ditinggalkan bertahun-tahun dan harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anak mereka.

Di Desa Riaraja, Komandaru, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, mereka dikenal dengan sebutan JAMAL (Janda Malaysia). Sebutan ini melekat pada perempuan yang ditinggalkan suaminya bekerja di Malaysia dan harus menanggung seluruh tanggung jawab keluarga seorang diri.

Salah satunya adalah Kristina Langkamau, perempuan asal Flores Timur yang kini menetap di Komandaru. Lebih dari dua puluh tahun ia menjalani hidup tanpa kehadiran suami yang merantau ke Malaysia. Dalam kesehariannya, Kristina bekerja tanpa mengenal waktu demi memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.

“Kalau saya tidak kerja, siapa yang kasih makan anak-anak? Siapa yang biayai sekolah mereka?” ujarnya kepada RRI, senin, 8 Juni 2026.

Setiap hari Kristina mencari kelapa dari kebun ke kebun. Ketika malam tiba, ia masih melanjutkan pekerjaan dengan menenun dan membuat kue untuk menambah penghasilan. Di tengah kesibukan itu, ia mengaku kerap menyimpan kesedihan yang tidak diketahui banyak orang.

“Kadang malam orang sudah tidur, saya masih kerja. Saya menangis kalau anak-anak sudah tidur,” katanya.

Meski harus menanggung beban hidup seorang diri, Kristina tetap berusaha menjalani perannya sebagai ibu sekaligus kepala keluarga. Ia juga terus menanamkan kepada anak-anaknya agar tidak menyimpan kebencian terhadap sang ayah meskipun telah lama berpisah.

“Saya bilang ke anak-anak, jangan benci bapak. Itu dosa,” ucapnya.

Perjuangan Kristina juga disaksikan oleh tetangganya, Angelina, yang telah mengenalnya selama hampir 18 tahun. Menurut Angelina, Kristina merupakan sosok pekerja keras yang menjalankan seluruh tanggung jawab keluarga seorang diri.

“Dia pekerja keras. Bapaknya dia, mamanya juga dia. Semua dia urus sendiri,” ujar Angelina.

Ia masih mengingat masa-masa sulit yang pernah dialami keluarga Kristina ketika kebutuhan pangan sangat terbatas. Dalam kondisi tersebut, warga sekitar saling membantu dan berbagi agar dapat bertahan hidup bersama.

“Kita pernah saling pinjam beras. Dia makan sambil menangis, kita juga ikut sedih,” katanya.

Kisah Kristina menggambarkan sisi lain migrasi tenaga kerja yang sering luput dari perhatian. Di balik kiriman uang dan cerita keberhasilan yang sering terdengar, ada keluarga yang harus menghadapi kesepian, tekanan ekonomi, dan luka emosional yang berlangsung bertahun-tahun.

Ketua JPIC Keuskupan Agung Ende, Romo Reginald Piperno, menilai para perempuan yang ditinggalkan membutuhkan pendampingan agar mampu bertahan dan bangkit dari berbagai persoalan yang dihadapi.

“Ketika kita berhadapan dengan situasi sulit seperti itu, harapan untuk pulih kadang menipis. Maka harapan satu-satunya adalah kepada Tuhan,” ujarnya.

Menurut Romo Reginald, pendampingan spiritual menjadi salah satu cara penting untuk membantu para perempuan yang menghadapi berbagai persoalan hidup. Melalui pendampingan tersebut, mereka diajak menemukan kekuatan, ketenangan, dan harapan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

“Mungkin semua orang akan meninggalkan kita, tetapi Tuhan tidak pernah meninggalkan kita,” katanya.

Selain pendampingan rohani, upaya pemberdayaan ekonomi juga dilakukan melalui kegiatan berkebun, pengembangan usaha kecil, dan kelompok simpan pinjam bagi perempuan serta purna migran. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sehingga masyarakat tidak lagi menganggap migrasi sebagai satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan.

“Kita tidak bisa menyelesaikan persoalan migran hanya di hilir. Kita harus mulai dari hulu, yaitu ekonomi. Kalau ekonomi mereka baik, mereka tidak akan tergoda untuk merantau,” kata Romo Reginald.

Kini, kehidupan Kristina perlahan mulai membaik. Anak-anaknya telah tumbuh dewasa dan mulai membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun perjalanan panjang yang dilaluinya menjadi gambaran nyata tentang beban yang harus dipikul banyak perempuan ketika suami pergi merantau dalam waktu yang lama.

Di balik sebutan JAMAL, terdapat kisah ketangguhan perempuan yang tetap berdiri meski menghadapi berbagai keterbatasan. Mereka menjadi ibu, ayah, pencari nafkah, sekaligus penjaga harapan bagi keluarga yang ditinggalkan. Kisah mereka mengingatkan bahwa dampak migrasi bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga tentang keluarga yang berjuang mempertahankan kehidupan di rumah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....