Larang Lagunya Di-cover AI, Feliks Edon: Merusak Orisinalitas Karya Musik

  • 27 Mei 2026 09:20 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Musisi kondang sekaligus budayawan Manggarai yang juga Pendiri Sanggar Seni Wela Rana, Feliks Edon, secara tegas melarang keras penggunaan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk menggubah atau meng-cover lagu-lagu hasil karyanya.

Ia menilai maraknya lagu daerah versi AI di media sosial berpotensi merusak orisinalitas karya musik serta mengaburkan nilai budaya dan bahasa daerah Manggarai.

Sejumlah lagu hit milik Feliks Edon seperti Naca Ge, Anak Diong, Lelak Loce Renda, hingga Lalo Ledong diketahui mulai beredar di berbagai kanal digital dalam versi AI. Berdasarkan penelusuran RRI, beberapa akun yang turut meng-cover lagu-lagu tersebut di antaranya adalah akun YouTube Nona Timur Musik, Liberto Lait Music, akun TikTok COBBLESTONE, serta akun TikTok @Cercingis.

Kepada RRI, Feliks mengaku kecewa setelah menemukan beberapa lagu ciptaannya diunggah ulang dalam versi AI tanpa memperhatikan pelafalan, dialek, maupun karakteristik bahasa Manggarai yang benar. "Saya kecewa sekali karena mereka berani untuk meng-covernya tapi tidak memperhatikan karakteristik bahasa Manggarai pengucapan maupun dialek-dialeknya," ujar Feliks, Senin 25 Mei 2026.

Menurutnya, penggunaan AI tanpa pemahaman yang baik justru berpotensi mewariskan kesalahan bahasa kepada generasi muda. Ia khawatir jika generasi mendatang lebih menyukai versi AI yang salah, maka hal itu sama saja dengan mewariskan kesalahan berbahasa kepada anak cucu.

Selain itu, masyarakat, terutama anak-anak dan pendengar dari luar Manggarai, menganggap pengucapan dan syair yang salah tersebut sebagai sesuatu yang benar. "Saya justru menjaga bahasa daerah kita, kalau nanti anak cucu kita suka dengan lagu agu yang dicover AI dengan pengucapan, teks atau syair seperti yang mereka buat itu berarti kita mewariskan kesalahan kepada anak anak cucu kita," katanya.

Feliks menegaskan dirinya tidak sepenuhnya menolak perkembangan teknologi AI dalam industri musik. Namun, ia meminta para kreator tetap memperhatikan keaslian lirik, pelafalan bahasa, dan makna lagu agar tidak menyimpang dari karya aslinya.

Ia juga mengaku terbuka apabila para kreator konten atau pengelola kanal digital ingin berkoordinasi langsung dengannya terkait penggunaan lagu-lagu ciptaannya, termasuk memastikan ketepatan lirik dan pengucapan. "Fatal bagi saya lagi daerah saya dinyanyikan oleh mesin sesuai dengan kemauannya dia," ungkapnya.

Feliks menilai, untuk sementara waktu penggunaan AI dalam lagu daerah masih perlu dikaji lebih jauh agar tidak menghilangkan identitas budaya lokal. Menurutnya, lagu daerah bukan sekadar hiburan, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang harus dijaga keasliannya. "Sekali lagi itu salah dibuat maka sepanjang masa seperti itu," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....