Kemenag Flores Timur Dorong Gerakan Ekoteologi lewat Misa Inkulturasi

  • 25 Mei 2026 15:03 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Flores Timur – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Yosef Aloysius Babaputra, mengajak masyarakat memperkuat kesadaran ekologis melalui pendekatan iman dan budaya dalam Misa Inkulturasi di Gereja St. Yohanes Pembaptis, Desa Wailolong, Kecamatan Ile Mandiri, Jumat 22 Mei 2026. Ajakan tersebut disampaikan sebagai bagian dari penguatan program Ekoteologi yang menjadi prioritas nasional Kementerian Agama.

Dalam sambutannya, Yosef menekankan bahwa menjaga lingkungan hidup bukan hanya tanggung jawab sosial, tetapi juga bagian dari panggilan iman. Menurutnya, masyarakat Flores Timur selama ini hidup berdampingan dengan alam dan memiliki kearifan lokal yang perlu terus dijaga.

“Kita semua meyakini bahwa alam adalah ibu yang memberikan kehidupan, kebaikan, dan kesejahteraan bagi manusia. Karena itu, menjaga lingkungan harus diwujudkan dalam tindakan nyata,” kata Yosef.

Ia menjelaskan, Flores Timur telah mengambil langkah konkret melalui pencanangan Gerakan Ekoteologi dan penanaman Pohon Matoa di lingkungan Paroki St. Yoseph Riangkemie. Program tersebut diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi umat dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Yosef, pendekatan ekoteologi penting karena nilai agama dan budaya lokal memiliki hubungan yang erat dengan alam. Kesadaran menjaga lingkungan, kata dia, perlu dibangun sejak dini agar warisan alam tetap terpelihara bagi generasi mendatang.

Misa Inkulturasi yang dipimpin Uskup Keuskupan Larantuka, Yohanes Hans Monteiro, juga dihadiri Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, tokoh adat, dan masyarakat dari berbagai wilayah Kecamatan Ile Mandiri.

Perayaan tersebut memadukan unsur budaya lokal dalam liturgi gereja sebagai simbol keterhubungan antara iman, budaya, dan kehidupan masyarakat. Berbagai ekspresi adat yang ditampilkan menjadi bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur yang masih terjaga hingga kini.

Yosef menilai masyarakat Riangkemie telah menunjukkan praktik kehidupan yang harmonis melalui sikap rukun, terbuka terhadap keberagaman, dan tetap menjaga budaya lokal. Kondisi itu dinilai sejalan dengan semangat moderasi beragama dan pembangunan kehidupan umat yang damai.

Ia berharap semangat yang lahir dari Misa Inkulturasi dapat menginspirasi generasi muda Flores Timur untuk memperkuat iman, menjaga budaya, dan merawat lingkungan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....