Krisis Lingkungan di Flores Meluas, Air Bersih hingga Lahan Pertanian Terdampak
- 22 Mei 2026 10:24 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Kondisi lingkungan di Pulau Flores dinilai semakin mengkhawatirkan dalam beberapa tahun terakhir. Krisis air bersih, gagal panen, kerusakan ekosistem, hingga konflik sosial akibat proyek pembangunan mulai dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.
Aktivis lingkungan dari Yayasan Tananua, Hironimus Pala, mengatakan Flores sedang menghadapi perubahan ekologis besar yang dipicu kombinasi krisis iklim, alih fungsi lahan, proyek energi panas bumi, serta tingginya kerentanan bencana geologis. Hal itu disampaikannya dalam dialog di Pro 1 RRI pada 25 April 2026.
Menurut Hironimus, dampak paling nyata terlihat dari rusaknya ekosistem darat dan laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Sejumlah wilayah kini mengalami penurunan debit air tanah, mengeringnya mata air, hingga berkurangnya hasil tangkapan nelayan.
Ia menjelaskan musim kemarau di Flores kini berlangsung lebih panjang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut diperparah dengan pola hujan yang tidak menentu akibat dampak perubahan iklim global dan fenomena El Niño.
“Dampak pertama yang dirasakan masyarakat adalah gagal panen dan krisis air bersih,” ujarnya.
Di wilayah Ende bagian utara, kemarau panjang menyebabkan banyak tanaman jagung mati akibat kekurangan air. Kondisi itu membuat sejumlah petani mengalami kerugian besar karena gagal panen atau puso.
Selain sektor pertanian, masyarakat pesisir juga mulai merasakan dampak kerusakan lingkungan laut. Ekspansi pariwisata skala besar dan aktivitas penambangan batu gamping disebut mempersempit ruang tangkap nelayan serta memicu penurunan hasil laut.
Hironimus turut menyoroti perkembangan proyek panas bumi atau geothermal di sejumlah titik di Flores. Menurutnya, pembangunan PLTP seperti di Mataloko menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena dianggap berpotensi merusak lingkungan dan mengurangi akses terhadap sumber air bersih.
Ia mengatakan proyek-proyek tersebut juga memicu konflik sosial di tengah masyarakat adat yang tinggal di sekitar lokasi pembangunan. Warga khawatir kehilangan ruang hidup dan menghadapi ancaman kerusakan ekologis jangka panjang.
Di sisi lain, Flores merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana geologis seperti gempa bumi dan aktivitas vulkanik. Dampak erupsi Gunung Lewotobi di Flores Timur, misalnya, telah merusak lahan pertanian dan memaksa sejumlah warga mengungsi.
Perubahan lanskap adat juga mulai terlihat di beberapa kampung tradisional. Salah satunya terjadi di Kampung Adat Bowaru yang mengalami retakan tanah hingga merusak rumah adat milik warga.
Hironimus menilai Flores kini berada pada titik penting antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Jika kerusakan ekologis terus berlangsung tanpa pengendalian, dampaknya diperkirakan tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga ketahanan pangan, ekonomi masyarakat, hingga mendorong meningkatnya migrasi warga keluar desa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....