Festival Literasi Lembata Jadi Ajang Uji Budaya Baca Masyarakat
- 21 Mei 2026 16:48 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Lembata – Festival Literasi Kabupaten Lembata tahun 2026 tidak hanya digelar sebagai agenda seremonial tahunan. Pemerintah daerah menjadikannya sebagai momentum untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat budaya baca masyarakat secara berkelanjutan.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Ansel Wahi, mengatakan festival tersebut dirancang untuk mengukur efektivitas program literasi yang selama ini dijalankan pemerintah daerah. Evaluasi dilakukan dengan melibatkan sekolah, siswa, guru, hingga masyarakat umum.
Dalam dialog di Pro 1 RRI Ende Rabu 6 Mei 2026, Ansel menjelaskan salah satu bentuk evaluasi dilakukan melalui berbagai lomba literasi. Kegiatan itu digunakan untuk melihat sejauh mana buku-buku yang telah didistribusikan ke sekolah benar-benar dimanfaatkan dalam proses belajar.
Menurutnya, festival juga menjadi ruang apresiasi bagi sekolah yang aktif mengembangkan budaya baca. Berbagai hasil karya literasi siswa dipamerkan, mulai dari majalah dinding hingga produk kreativitas siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Pemerintah daerah turut menghadirkan bazar buku untuk memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Kehadiran bazar tersebut diharapkan dapat mendorong minat baca masyarakat, terutama generasi muda.
“Buku harus mudah dijangkau masyarakat. Karena akses terhadap bahan bacaan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kebiasaan membaca,” kata Ansel.
Selain bazar buku, festival juga menghadirkan klinik literasi yang berlangsung dari siang hingga malam hari. Klinik tersebut lebih menekankan praktik dibanding teori dengan komposisi sekitar 80 persen praktik dan 20 persen teori.
Tema yang dibahas dalam klinik literasi berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat Lembata. Materinya meliputi pengelolaan lingkungan, tanam air, pengolahan jagung, pemanfaatan sinar matahari, hingga keterampilan menenun berbasis budaya lokal.
Ansel mengatakan pendekatan tersebut dipilih agar literasi tidak hanya dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Pemerintah ingin masyarakat mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut indeks kegemaran membaca masyarakat Lembata terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya berada pada kisaran angka 40, kini meningkat menjadi lebih dari 63 pada tahun 2025.
Meski demikian, Ansel mengakui sistem pendukung literasi di sekolah dan masyarakat masih perlu diperkuat. Karena itu, pemerintah daerah membangun kerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Lembata, Kementerian Agama, dan pemerintah desa untuk memperluas gerakan literasi.
Melalui gerakan “Lembata Baca”, pemerintah berharap budaya membaca dapat dimulai dari lingkungan keluarga dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sepanjang hayat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....