Literasi di Lembata Belum Merata, Akses Buku Jadi Tantangan Utama

  • 21 Mei 2026 16:49 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Lembata – Rendahnya akses masyarakat terhadap bahan bacaan masih menjadi tantangan utama dalam penguatan budaya literasi di Kabupaten Lembata. Kondisi itu terutama dirasakan warga di wilayah desa dan pelosok yang sulit menjangkau perpustakaan daerah.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lembata, Ansel Wahi, mengatakan persoalan literasi di daerahnya bukan hanya soal ketersediaan buku. Menurutnya, tantangan terbesar juga terletak pada kesadaran masyarakat untuk menjadikan literasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Dalam dialog di Pro 1 RRI Ende, Rabu 6 Mei 2026, Ansel menjelaskan koleksi buku di perpustakaan daerah sebenarnya sudah cukup memadai. Hingga saat ini, jumlah koleksi tercatat mencapai lebih dari 400 ribu buku.

Namun, sebagian besar masyarakat belum dapat memanfaatkan koleksi tersebut secara optimal karena faktor jarak. Banyak warga tinggal jauh dari pusat kota sehingga akses menuju perpustakaan menjadi terbatas.

“Yang paling banyak memanfaatkan perpustakaan masih masyarakat yang berada di sekitar kota. Sementara masyarakat di desa-desa terpencil belum memiliki akses yang sama terhadap bahan bacaan,” ujarnya.

Selain persoalan akses, Ansel menilai sistem pendukung budaya literasi di lingkungan masyarakat juga belum terbentuk secara kuat. Akibatnya, sebagian warga masih menganggap literasi belum menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Lembata mulai mendorong berbagai inovasi pelayanan literasi. Salah satu program yang dijalankan ialah “Perpustakaan Gorys Keraf Goes to School” yang mendistribusikan buku ke sekolah-sekolah setiap bulan.

Melalui program itu, sekitar 100 buku dititipkan di perpustakaan sekolah dan akan diganti secara berkala dengan koleksi baru. Program tersebut diharapkan membantu siswa dan guru mendapatkan tambahan referensi di luar buku pelajaran.

Ansel mengatakan upaya memperkuat budaya baca tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Menurutnya, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu terlibat aktif dalam menciptakan ruang belajar yang mendukung tumbuhnya kebiasaan membaca.

Ia berharap Festival Literasi Lembata menjadi momentum membangun kesadaran bersama tentang pentingnya literasi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia. Literasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan daya saing masyarakat di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....