Rumah Baca Isilanga Bentengi Anak dari Dampak Digital

  • 21 Mei 2026 12:39 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Pergeseran masalah literasi dari yang semula keterbatasan akses informasi menjadi tantangan pengendalian arus penggunaan gawai (gadget) dan risiko dampak negatif media sosial terhadap perilaku, emosi, serta nilai spiritual anak desa.
  • Rumah Baca Isilanga menyiasati penggunaan gawai lewat program menonton film edukatif bersama yang diintegrasikan dengan sesi diskusi moral, agar anak-anak mampu memfilter pesan positif secara kritis.
  • Penekanan pada pengajaran etika berkomunikasi (netiquette) dan sopan santun digital untuk membentengi anak-anak dari tren mengejar konten viral yang tidak mendidik.

RRI.CO.ID, Ngada – Arus penggunaan gawai yang semakin masif di kalangan anak-anak mendorong Rumah Baca Isilanga di Kabupaten Ngada memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital. Komunitas tersebut menilai kemajuan teknologi tanpa pendampingan berisiko memengaruhi perilaku, emosi, hingga nilai spiritual generasi muda desa.

Pegiat literasi Mertin Lucia mengatakan tantangan terbesar saat ini bukan lagi keterbatasan akses informasi, melainkan cara anak-anak menggunakan teknologi secara bijak. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan seimbang dengan pengendalian emosi dan iman agar anak tidak mudah terpengaruh konten negatif media sosial.

Rumah Baca Isilanga menyiasati penggunaan gawai melalui kegiatan menonton film edukatif bersama yang dilanjutkan dengan diskusi moral. Pendekatan itu dilakukan agar anak-anak tidak hanya menjadi penikmat teknologi, tetapi juga mampu memahami nilai dan pesan positif dari setiap tontonan.

“Postingan di dunia maya mencerminkan jati diri kita yang sebenarnya di dunia nyata,” ujar Mertin dalam program Komunitas Bicara Pro 1 Radio Republik Indonesia Ende, Senin, 16 Maret 2026.

Ia menilai tren mengejar konten viral tanpa nilai edukasi dapat memengaruhi pola komunikasi anak-anak sejak dini. Karena itu, komunitas tersebut aktif mengajarkan etika berkomunikasi, sopan santun, dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab kepada peserta rumah baca.

Pendampingan juga dilakukan melalui kegiatan menulis kreatif agar anak-anak mampu menuangkan gagasan dalam bentuk karya. Menurut Mertin, kebiasaan menulis akan mendorong anak lebih rajin membaca referensi sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis.

Rumah Baca Isilanga berharap ruang diskusi literasi digital semakin banyak hadir di desa-desa untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap dampak media sosial. Komunitas itu meyakini literasi tidak hanya membangun kecerdasan, tetapi juga menjadi benteng menjaga karakter generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....