Stigma Keluarga Hambat Pendidikan Disabilitas di NTT
- 10 Mei 2026 11:40 WIB
- Ende
Poin Utama
- Stigma keluarga menjadi penyebab utama anak disabilitas tidak mengakses pendidikan sejak dini.
RRI.CO.ID, Ende – Akses pendidikan bagi penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Timur masih menghadapi tantangan mendasar yang justru berawal dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Stigma yang berkembang membuat banyak anak tidak memperoleh kesempatan belajar sejak usia dini.
Ketua NPC NTT, Victor Haning, mengungkapkan bahwa persoalan pendidikan disabilitas tidak semata terjadi di sekolah, tetapi sudah muncul sejak di rumah. Banyak orang tua masih memandang anak disabilitas sebagai individu yang tidak mampu mengikuti pendidikan formal.
“Stigma di keluarga bahwa anak disabilitas tidak mampu bersekolah itu yang paling awal memutus akses pendidikan,” kata Victor dalam dialog bersama RRI Ende, Sabtu 2 Mei 2026.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada rendahnya partisipasi pendidikan. Tidak sedikit anak penyandang disabilitas yang tidak pernah masuk sekolah, atau memulai pendidikan dalam kondisi terlambat dibanding anak seusianya.
Selain faktor stigma, tantangan juga datang dari kondisi geografis dan keterbatasan mobilitas. Anak dengan disabilitas sedang hingga berat membutuhkan pendampingan penuh, termasuk antar-jemput ke sekolah yang tidak selalu mampu dipenuhi keluarga.
Situasi ini diperparah dengan kesibukan orang tua serta jarak tempuh yang jauh di sejumlah wilayah. Dalam banyak kasus, keterbatasan tersebut berujung pada keputusan anak untuk berhenti sekolah.
Realitas ini menunjukkan bahwa upaya mendorong pendidikan inklusif tidak cukup hanya dengan kebijakan formal, tetapi juga membutuhkan perubahan cara pandang keluarga sebagai pintu pertama akses pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....