Pertamina Akui Infrastruktur Distribusi Jadi Tantangan Utama LPG di NTT

  • 07 Mei 2026 21:41 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) mengakui bahwa keterbatasan infrastruktur distribusi masih menjadi tantangan utama dalam penyaluran LPG khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berdampak langsung pada tingginya biaya logistik dan harga jual kepada masyarakat.

Area Manager Communication, Relations & CSR Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan, hingga saat ini distribusi LPG ke NTT masih berbeda dibandingkan sebagian besar wilayah lain di Indonesia.

Adapun jika di banyak provinsi LPG dikirim menggunakan kapal tanker langsung ke terminal energi daerah, di NTT pasokan LPG masih dikirim dari Surabaya menggunakan kapal kontainer dalam bentuk tabung.

“NTT sampai sekarang masih menggunakan pengiriman LPG per tabung melalui kapal kontainer dari Surabaya, bukan distribusi curah melalui kapal tanker seperti daerah lain,” ujarnya, Kamis 7 Mei 2026.

Model distribusi tersebut dinilai kurang efisien karena membutuhkan biaya transportasi lebih besar. Selain pengiriman tabung yang lebih kompleks, kapal kontainer juga menggunakan bahan bakar non-subsidi sehingga meningkatkan ongkos distribusi.

Akibatnya, harga LPG non-subsidi seperti tabung 12 kilogram di NTT jauh lebih mahal dibandingkan wilayah lain seperti NTB.

“Biaya transportasi yang tinggi berdampak langsung pada harga jual LPG di masyarakat,” kata Ahad.

Tantangan distribusi juga sempat meningkat akibat perbaikan dermaga di Surabaya yang menyebabkan kapasitas sandar kapal kontainer berkurang drastis.

Kondisi ini menghambat kelancaran suplai LPG ke NTT. Guna mengatasi hal tersebut, Pertamina menambah frekuensi pengiriman kapal dari 2–3 kali menjadi 4–5 kali per bulan.

Sebagai langkah jangka pendek, Pertamina mendorong optimalisasi infrastruktur yang sudah tersedia di wilayah NTT, termasuk terminal distribusi di Tenau, Kupang, serta Fuel Terminal Labuan Bajo di Wae Kelambu.

Fuel Terminal Labuan Bajo ini berfungsi sebagai titik cadangan distribusi BBM dan penyangga pasokan ketika terjadi keterlambatan pengiriman akibat cuaca buruk maupun kendala operasional kapal.

“Kami terus mengoptimalkan terminal yang ada agar distribusi energi lebih aman dan efisien,” ungkap Ahad.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....