Kisah Maria Bersama Kedua Anaknya Tinggal di Pondok Lahan Orang Tanpa Listrik
- 04 Mei 2026 19:45 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai — Kisah memilukan dialami Maria Soviana Lembu (39), warga Kampung Lando, Desa Bangka Jong, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai. Ia menjalani kehidupan dalam keterbatasan di sebuah pondok sederhana yang berdiri di atas lahan milik orang lain, sambil berjuang membesarkan kedua anaknya di tengah himpitan ekonomi yang berat.
Hampir satu tahun terakhir, Maria bersama anak-anaknya harus mendekap pilu di dalam pondok kecil yang jauh dari kata layak. Gubuk reyot itu bahkan belum tersentuh aliran listrik negara, sehingga saat malam tiba, mereka hanya bisa mengandalkan cahaya lampu pelita untuk sekadar menerangi ruangan yang sempit sekaligus menemani anak-anaknya belajar.
Maria merupakan ibu dari empat anak, yakni Marliana Safira (14), Fania Fransiska Idut (10), Regonius Sui (9), dan Yuliana Setia (5). Namun, kondisi ekonomi keluarga membuat anak-anaknya harus tinggal terpisah. Safira saat ini menetap bersama neneknya di Kampung Lando, sementara Fransiska tinggal di Benteng Jawa bersama kerabat. Adapun Regonius dan Yuliana tinggal bersama Maria di sebuah pondok sederhana.
Maria mengisahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai pendidikan anak-anaknya, ia bekerja serabutan di kebun milik warga. Penghasilan yang tidak menentu membuat mereka lebih sering mengonsumsi ubi sebagai makanan utama.
Beras hanya dapat dibeli jika ada sisa uang dari hasil kerja. "Jika memiliki uang lebih, barulah saya bisa beli beras," ujar Maria saat dikunjungi anggota Polres Manggarai Bripka Heribertus A.B.Tena
Maria hanya berharap agar bisa dibangun rumah layak huni serta akses pendidikan yang lebih baik bagi anak-anaknya. “Harapan saya, ada rumah untuk kami, karena saya tidak punya rumah, serta listrik untuk keluarga kami,” katanya.
Meski dihimpit beban hidup yang berat, Maria tetap teguh bertahan dan mencurahkan segala upayanya demi masa depan anak-anaknya. Uluran tangan warga sekitar sesekali hadir untuk menyambung hidup, terutama dalam bentuk bantuan beras, sementara pihak sekolah turut memberikan dukungan melalui pemberian perlengkapan belajar seperti sepatu, pakaian dan tas kepada anak-anaknya.
Potret kehidupan Maria menjadi pengingat sekaligus cermin bagi semua pihak untuk meningkatkan kepedulian terhadap warga yang terpinggirkan. Kisah Maria bukan sekadar tentang penderitaan, melainkan panggilan kemanusiaan bagi pemerintah dan sesama untuk hadir memberikan solusi nyata, agar harapan akan rumah layak huni dan masa depan cerah bagi anak-anaknya tidak berhenti sebagai mimpi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....