Manggarai Timur Tanggap KLB Rabies, Gelar Vaksinasi Massal

  • 02 Mei 2026 09:59 WIB
  •  Ende
Poin Utama
  • Manggarai Timur menetapkan status KLB rabies dan melakukan vaksinasi massal HPR.
  • Keterbatasan vaksin tahun 2025 menjadi penyebab peningkatan kasus.
  • Tahun 2026 tersedia sekitar 10.000 dosis vaksin untuk penanganan.
  • Wilayah prioritas meliputi Borong, Kota Komba, dan Lambaleda Timur.
  • Peran masyarakat penting dalam pencegahan melalui kepatuhan dan vaksinasi hewan.

RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) rabies dan terus menggencarkan vaksinasi massal hewan penular rabies (HPR) sebagai langkah penanganan cepat.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Manggarai Timur, Sistus Mbalur, mengatakan peningkatan kasus rabies dipengaruhi oleh keterbatasan vaksin pada tahun sebelumnya serta kondisi geografis wilayah yang menyulitkan pengendalian populasi anjing.

“Pada tahun 2025 vaksinasi sempat stagnan karena keterbatasan dosis, sehingga tidak semua wilayah terjangkau. Tahun 2026 ini kami bergerak lebih masif dengan dukungan lintas sektor,” ujarnya dalam wawancara di RRI, Sabtu, 2 Mei 2026.

Pemerintah daerah, lanjutnya, telah melakukan berbagai upaya mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, pembentukan regulasi terkait kepemilikan hewan, hingga kerja sama dengan berbagai pihak seperti PMI dan instansi terkait lainnya.

Pada tahun ini, Manggarai Timur mendapatkan tambahan sekitar 10.000 dosis vaksin, dengan 2.000 dosis di antaranya dikelola langsung oleh Dinas Peternakan untuk percepatan vaksinasi di wilayah prioritas.

Adapun wilayah prioritas vaksinasi meliputi Kecamatan Borong, Kota Komba, dan Lambaleda Timur. Ketiga wilayah ini dinilai memiliki tingkat risiko penyebaran rabies yang cukup tinggi.

Sistus menjelaskan bahwa tantangan utama di lapangan adalah banyaknya anjing liar yang berkembang biak di kawasan hutan dan kembali ke permukiman warga, sehingga berpotensi menularkan rabies.

“Topografi wilayah kita yang bergunung-gunung membuat pengendalian anjing menjadi sulit. Banyak anjing yang lepas ke hutan lalu kembali dan menyerang,” katanya.

Ia menambahkan, vaksinasi terbukti mampu menekan penyebaran rabies, terutama di wilayah perkotaan. Namun, di daerah terpencil, kasus masih ditemukan meskipun mulai menunjukkan tren penurunan.

Dalam pelaksanaannya, vaksinasi diawali dengan sosialisasi intensif kepada masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan pembentukan tim gabungan yang melibatkan petugas peternakan, pemerintah desa, serta dukungan dari organisasi kemanusiaan.

Sistus menegaskan bahwa keberhasilan penanganan KLB rabies sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat, khususnya pemilik hewan peliharaan.

“Masyarakat diharapkan mematuhi aturan, membatasi jumlah hewan peliharaan, mengandangkan atau mengikat anjing, serta memastikan hewan divaksin,” ujarnya.

Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur menargetkan penurunan signifikan kasus rabies sepanjang tahun 2026 melalui upaya vaksinasi massal dan kolaborasi lintas sektor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....