Kemensos Salurkan Bantuan untuk 64 Anak Disabilitas di SLB Karya Murni Ruteng

  • 29 Apr 2026 17:57 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Kementerian Sosial RI kembali menyalurkan bantuan bagi anak-anak penyandang disabilitas di Yayasan SLB Karya Murni Ruteng, Rabu, 29 April 2026. Dari total 104 anak, sebanyak 64 anak tercatat sebagai penerima manfaat bantuan.

Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan dasar seperti susu, pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi, serta bahan pangan seperti sarden. Penyaluran dilakukan langsung oleh perwakilan Kementerian Sosial, didampingi jajaran Dinas Sosial Kabupaten Manggarai, sebagai bentuk perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan hidup layak bagi anak-anak di panti tersebut.

Kepala RRI, Pekerja Sosial Direktorat Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Kementerian Sosial RI untuk Wilayah NTT, Stephanie Dwiyanti Siahaan, menjelaskan Yayasan SLB Karya Murni Ruteng merupakan salah satu Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) yang berada di bawah pembinaan Dinas Sosial Kabupaten Manggarai. Stephanie mengungkapkan, sebelumnya Yayasan SLB Karya Murni menerima bantuan permakanan dari Kementerian Sosial, namun untuk tahun 2026 program tersebut masih dalam tahap perencanaan sehingga dihentikan sementara.

Sebagai pengganti, disalurkan bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) yang difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak penyandang disabilitas. "Kami sebutnya bantuan atensi, kebutuhan hidup layak untuk adik-adik sebagai ganti atas program permakanan yang saat ini masih dalam proses," kata Stephanie.

Ia menjelaskan, bantuan permakanan sebelumnya diberikan sebesar Rp30 ribu per anak untuk dua kali makan. Namun, karena anak-anak di SLB tinggalnya di dalam panti, bantuan tersebut tidak termasuk biaya transportasi, berbeda dengan penerima di luar panti yang memperoleh tambahan biaya transportasi sekitar Rp2 ribu per anak.

Stephanie menyampaikan, bantuan kali ini diberikan kepada 64 anak penyandang disabilitas yang terdaftar sebagai penerima manfaat dalam DTSEN, khususnya pada desil 1 hingga 4. Dirinya juga mengupayakan agar bantuan serupa dapat menjangkau kabupaten lain di Provinsi NTT.

Ia berharap, meskipun jumlah bantuan terbatas, tetap dapat bermanfaat bagi anak-anak untuk mendukung kesehatan, kekuatan, serta aktivitas belajar mereka. Selain itu, bantuan ini diharapkan dapat membantu pihak yayasan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

"Semoga bantuan yang kali ini walaupun sedikit tapi bisa bermanfaat untuk adik-adik, bisa dimanfaatkan dan dinikmati oleh adik-adik di sini semua, bisa menjadi kesehatan, kekuatan juga untuk adik-adik bisa melaksanakan aktivitasnya, sekolahnya ke depan, bisa membantu suster-suster juga untuk memberikan makanan yang terbaik untuk adik adik," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mendorong LKS di Provinsi NTT, khususnya di Kabupaten Manggarai, untuk segera mendaftarkan diri ke Dinas Sosial agar terdata dan berpeluang mendapatkan bantuan dari Kementerian Sosial maupun kementerian lainnya.

Sementara itu, perwakilan Yayasan SLB Karya Murni Ruteng, Sr. Christine Pasaribu, menjelaskan aktivitas harian anak-anak di asrama yang dimulai sejak pukul 04.00 WITA. Kegiatan diawali dengan bangun pagi, dilanjutkan ibadah Ekaristi, sarapan, hingga mengikuti proses belajar di sekolah.

Sepulang sekolah, anak-anak mengikuti program pengembangan bakat yang disesuaikan dengan jenis disabilitas masing-masing. Untuk anak tunanetra, kegiatan meliputi pijat, merangkai rosario, dan penguatan literasi. Sedangkan bagi tunarungu, pengembangan difokuskan pada keterampilan seperti salon kecantikan, tata busana, menenun, pertukangan, hingga pertanian organik.

Selain itu, anak-anak juga dilatih mandiri melalui kegiatan memasak dan pengolahan bahan pangan seperti pembuatan tempe, yang rutin dilakukan setiap sore. Bagi anak-anak yang beranjak remaja, yayasan bekerja sama dengan pihak sekolah untuk menggali minat dan bakat mereka.

Namun demikian, Sr. Christine mengakui berbagai tantangan yang dihadapi, terutama terkait kebutuhan tenaga profesional untuk pelatihan keterampilan serta pembiayaan operasional yang cukup besar. “Untuk pengembangan bakat, kami membutuhkan tenaga profesional yang tentu harus kami biayai setiap bulan. Selain itu, kebutuhan operasional, pendidikan, hingga kesehatan anak-anak juga cukup besar,” ungkapnya.

Dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, yayasan juga berupaya mandiri dengan menanam sayuran dan mengelola sawah yang berada di wilayah Satarmese. Meski begitu, pengelolaan lahan dan pemberdayaan anak-anak tetap memerlukan dukungan biaya yang tidak sedikit. "Dana yang cukup besar untuk pendidikan , kesejahteraan, dan pemberdayaan pelatihan pelatihan," ungkap Sr. Christine.

Ia juga mengungkapkan bahwa bantuan Permakanan sebelumnya terbukti berdampak positif terhadap kesehatan anak-anak, terutama dalam menjaga asupan gizi sehingga mereka dapat beraktivitas dan belajar dengan baik.

Dengan jumlah mencapai 105 anak, kebutuhan konsumsi harian di yayasan cukup besar, bahkan mencapai sekitar 65 kilogram beras per hari. “Terimakasih kasih sekali ya. Dengan adanya bantuan ini tentu bisa menghidupi anak-anak yang berjumlah 105. Dampaknya bukan hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan mental dan semangat anak-anak,” ujarnya.

Sr. Christine berharap adanya dukungan berkelanjutan dari pemerintah, termasuk kehadiran tenaga relawan untuk membantu operasional di SLB. Ia juga berharap bantuan serupa dapat terus berlanjut agar kebutuhan dasar anak-anak penyandang disabilitas tetap terpenuhi secara optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....