Stigma Negatif Terhadap Kaum Disabilitas Masih Menjadi Tantangan
- 28 Apr 2026 02:00 WIB
- Ende
Poin Utama
- Stigma negatif dan pandangan sebelah mata dari masyarakat terhadap kemampuan penyandang disabilitas masih menjadi tantangan sosial yang berat di Kabupaten Ende.
- Diskriminasi sering kali bermula dari lingkungan keluarga, di mana beberapa keluarga masih menganggap disabilitas sebagai "pembawa sial" dan melakukan isolasi terhadap mereka.
- Penekanan pada penghormatan martabat disabilitas sebagai manusia yang memiliki hak yang sama di hadapan hukum dan Tuhan.
- Mengajak masyarakat untuk melakukan perubahan pola pikir dan melibatkan kaum disabilitas dalam kegiatan sosial maupun keagamaan di lingkungan sekitar.
- Sapaan dan kepedulian tulus dinilai memberikan kekuatan moral, sementara cibiran dianggap sangat merusak semangat juang penderita gangguan fisik.
RRI. CO. ID, Ende – Stigma negatif terhadap penyandang disabilitas masih menjadi tantangan sosial yang cukup berat di Kabupaten Ende. Masyarakat diminta untuk berhenti memandang sebelah mata atau menyepelekan kemampuan para penderita gangguan fisik.
Ketua PPDKE, Kristina Pero, dalam program ruang disabilitas dan inklusi pro 1 RRI Ende Sabtu, 28 Maret 2026 mengatakan diskriminasi sering kali dimulai dari lingkungan terkecil yaitu pihak keluarga. Beberapa keluarga masih menganggap penyandang disabilitas sebagai pembawa sial sehingga mereka sering kali diisolasikan, Ungkapnya
Perubahan pola pikir masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan ramah sosial. Menghargai martabat sesama manusia merupakan nilai dasar yang harus dijunjung tinggi dalam pergaulan hidup bermasyarakat..
"Hormati kami sebagai manusia yang memiliki hak yang sama di hadapan hukum dan Tuhan," ucap Kristina. Sikap peduli dan empati warga dapat memberikan kekuatan moral bagi disabilitas untuk terus berkembang.
Edukasi mengenai inklusi sosial terus dilakukan PPDKE melalui berbagai kanal komunikasi termasuk media radio RRI. Kristina mengajak warga untuk melibatkan kaum disabilitas dalam kegiatan sosial atau doa bersama di lingkungan.
Senyuman dan sapaan tulus dari masyarakat sudah menjadi bantuan yang sangat berarti bagi psikologis kaum disabilitas. Hindari tindakan cibiran yang dapat melukai perasaan dan menurunkan semangat juang penderita gangguan fisik tersebut..
"Jangan melihat kekurangan kami tetapi lihatlah kelebihan berbeda yang kami miliki untuk sesama manusia," kata Kristina. Kesadaran kolektif untuk menghapus stigma akan mempercepat terwujudnya masyarakat Ende yang adil dan inklusif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....