Tinggal di Bangunan Bekas PAUD, Balqis Terima Bantuan dari Dinsos Manggarai
- 27 Apr 2026 19:38 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai — Kisah pilu datang dari seorang anak bernama Alexandre Balqis (6), yang melampaui sekadar potret kemiskinan. Anak penyandang cerebral palsy (CP) ini hidup bersama ibunya di bangunan bekas PAUD yang nyaris roboh berlantai tanah, sempit dan jauh dari standar kelayakan hunian.
Balqis berasal dari Kampung Nggori, Desa Bangka Jong, Kecamatan Wae Ri’i. Ia merupakan putra pasangan Gaudensia V. Ravia dan Marchelindo Jebarut.
Saat ini, Balqis hanya tinggal bersama sang ibu, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan dan bekerja di perkebunan kelapa sawit. Dalam kondisi serba terbatas, Balqis menjalani hari-harinya di bangunan bekas gedung PAUD yang jauh dari kata layak huni.
Keduanya telah menempati bangunan tersebut selama kurang lebih lima bulan terakhir. Sebelumnya, Balqis dan ibunya tinggal bersama keluarga, namun harus berpindah karena rumah yang ditempati akan direnovasi.
Kini, mereka bertahan di bangunan sederhana yang kondisinya kian memprihatinkan. Atap yang usang, dinding anyaman bambu yang mulai lapuk serta lantai tanah menjadi gambaran keseharian mereka.
Minimnya fasilitas penerangan semakin mempertegas bahwa tempat tinggal tersebut jauh dari standar hunian yang layak. Gedung yang semestinya difungsikan sebagai ruang belajar anak usia dini itu kini beralih menjadi tempat berteduh bagi Balqis dan ibunya. Dalam keterbatasan tersebut, keduanya menjalani hari-hari tanpa dukungan fasilitas dasar yang semestinya hadir dalam sebuah hunian yang aman dan layak.
Kepala Dinas Sosial melalui Bidang Rehabilitasi Sosial, Heri Pedo, mengungkapkan bahwa kondisi Balqis menjadi perhatian serius pemerintah daerah melalui Dinas Sosial. Hal ini terbukti melalui aksi nyata kunjungan ke kediaman Balqis pada Senin, 27 April 2026.
Heri menjelaskan aksi ini merupakan sinergi antara Dinas Sosial, Pemerintah Desa Bangka Jong, perwakilan Kementerian Sosial RI, dan komunitas Cama Momang. Kehadiran mereka tidak hanya untuk melihat langsung kondisi Balqis, tetapi juga mengantarkan bantuan berupa beras 50 kg, paket sabun, mi instan, serta pakaian layak pakai.
Tak hanya itu, bantuan uang tunai pun turut diserahkan sebagai bentuk dukungan moril dan materiil bagi keluarga di tengah keterbatasan yang mereka hadapi. "Tadi ada bantuan beras 50 kg, sabun mandi 1 dos, sabun cuci 1 dos, mie sedap 1 dos, uang tunai, dan baju layak pakai," kata Heri via pesan WhatsApp kepada RRI, Senin malam, 27 April 2026.
Heri menjelaskan pihaknya tengah berupaya mencari solusi agar keluarga Balqis dapat mengakses bantuan sosial reguler maupun program rumah layak huni. Namun, dirinya mengakui upaya tersebut membentur sejumlah kendala, salah satunya adalah ketiadaan lahan milik pribadi untuk pembangunan rumah. "Tadi kami sekaligus cari solusi biar mereka bisa dapatkan bantuan perumahan kayak huni. Hanya masalahnya mereka ini tidak punya lahan untuk bangun rumah," ungkapnya.
Selain itu, status pekerjaan ayah Balqis di Kalimantan dengan penghasilan yang setara atau di atas UMP NTT menyebabkan keluarga ini, menurut sistem DTSEN (Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional), dikategorikan tidak memenuhi syarat sebagai penerima bantuan. "Ayah Balqis kerja di Kalimantan dengan gaji sesuai bahkan diatas UMP NTT, maka by sistem DTSEN keluarga ini dikategorikan tidak layak dapat bansos. Nah ini yg kami masih upayakan solusinya," ujar Heri.
Meski bantuan telah diterima, Heri menegaskan, persoalan mendasar yang dihadapi Balqis dan keluarganya belum sepenuhnya teratasi. Menurutnya, diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan agar mereka dapat keluar dari situasi rentan tersebut. Harapan pun tertuju pada hadirnya solusi jangka panjang, sehingga Balqis dapat tumbuh dan menjalani kehidupan yang lebih layak di tengah segala keterbatasan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....