Kelangkaan LPG di Ruteng Manggarai, Pengecer Soroti Distribusi dan Harga Naik
- 26 Apr 2026 18:14 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai – Ketersediaan gas elpiji (LPG) di wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, masih mengalami kekosongan dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini mulai menimbulkan keresahan di tengah masyarakat yang sangat bergantung pada LPG untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Sejumlah pengecer mengaku kesulitan mendapatkan pasokan dari agen resmi, meski pemesanan telah dilakukan sejak beberapa waktu lalu. “Saya ini pengecer LPG resmi. Di Ruteng memang ada yang resmi dan tidak resmi. Untuk yang resmi ini justru susah didapat,” ujar salah satu pengecer kepada RRI, Minggu, 26 April 2026.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab kelangkaan tersebut. Namun, menurutnya, kemungkinan berkaitan dengan distribusi pasokan yang belum stabil. “Saya tidak tahu ini karena apa, mungkin saja suplai tetap, tapi distribusinya yang terganggu. Apalagi mungkin ada kebutuhan lain seperti Dapur MBG,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti tidak adanya fasilitas pengisian LPG di wilayah Ruteng, sehingga pasokan harus didatangkan dari luar daerah seperti Jawa atau Bali.
“Di Ruteng ini tidak ada pengisian dari Pertamina, jadi tabung datang dari luar. Kami sebagai pengecer berharap ada pengisian di sini supaya tidak terlalu jauh distribusinya,” katanya.
Kelangkaan ini disebut sudah terjadi sekitar satu minggu terakhir. Sementara, isu kenaikan harga juga mulai beredar di kalangan pedagang. Meski belum ada kepastian, sebagian pengecer menyebut adanya kemungkinan penyesuaian harga dari tingkat distributor.
“Soal kenaikan harga belum pasti. Tapi kemungkinan ada pengaruh dari kondisi global juga, seperti situasi di Timur Tengah yang berdampak ke distribusi energi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini LPG non-subsidi di Ruteng dijual dengan harga sekitar Rp340 ribu untuk tabung 12 kilogram. Sementara LPG bersubsidi 3 kilogram tidak tersedia di Manggarai. “Di Manggarai ini umumnya non-subsidi. Harga sebelumnya sempat mendekati Rp260 ribu, tapi memang dari dulu di sini sudah cukup tinggi dibanding Jawa,” katanya.
Menurutnya, perbedaan harga dengan wilayah lain dipengaruhi oleh biaya distribusi dan kondisi pasokan yang tidak selalu stabil. “Di Jawa mungkin lebih murah, tapi di sini karena distribusi jauh, harga jadi berbeda. Kalau di sana juga langka, otomatis di sini ikut naik,” ucapnya.
Ia menyebutkan, berdasarkan informasi yang diterima dari jalur distribusi, pasokan LPG diperkirakan kembali normal pada 1 Mei 2026. Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai penyebab pasti kekosongan pasokan tersebut. Masyarakat berharap pemerintah dan pihak distributor segera mengambil langkah cepat agar kebutuhan energi rumah tangga dapat kembali terpenuhi secara normal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....