RRI Soroti Eksistensi Bahasa Indonesia ditengah Arus Bahasa Gaul dan Asing
- 26 Apr 2026 16:51 WIB
- Ende
Poin Utama
- Pengamat bahasa dan penulis, Dr. Dra. Maria Mathildis Banda, S.M, menegaskan bahwa Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menjaga identitas bangsa.
- “Mahasiswa dan generasi muda perlu dibekali kesadaran berbahasa. Mereka harus tahu kapan menggunakan bahasa formal dan kapan menggunakan bahasa santai,” jelasnya.
- Talkshow ini juga menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan dalam menanamkan sikap cinta terhadap Bahasa Indonesia.
RRI.CO.ID,Ende — Eksistensi Bahasa Indonesia di tengah maraknya penggunaan bahasa gaul dan bahasa asing menjadi topik utama dalam talkshow bersama RRI yang digelar Sabtu, 25 April 2026, di Anjungan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores Ende. Kegiatan ini menghadirkan akademisi, pengamat bahasa, dan mahasiswa untuk membahas tantangan serta upaya menjaga bahasa persatuan di era globalisasi.
Pengamat bahasa sekaligus penulis, Dr. Dra. Maria Mathildis Banda, S.M, menegaskan bahwa Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga identitas bangsa. Ia menilai penggunaan bahasa gaul dan campuran bahasa asing merupakan fenomena yang tidak terhindarkan, namun harus diimbangi dengan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dalam konteks formal.
Dosen PBSI Universitas Flores, Dra. Maria Marietta Bali Larasati, M.Hum, menyatakan bahwa bahasa gaul tidak selalu berdampak negatif karena dapat menjadi bentuk kreativitas linguistik. Meski demikian, ia menekankan pentingnya kesadaran generasi muda untuk menempatkan penggunaan bahasa sesuai situasi dan kebutuhan.
Mahasiswa PBSI Universitas Flores, Yanuarius Punan, mengakui bahwa bahasa gaul dan bahasa asing telah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari. Namun, ia menegaskan bahwa penggunaan Bahasa Indonesia yang baik tetap dijaga dalam kegiatan akademik dan forum resmi.
Talkshow ini juga menyoroti pentingnya peran lembaga pendidikan dalam menanamkan kecintaan terhadap Bahasa Indonesia. Selain itu, media sosial dinilai memiliki pengaruh besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa generasi muda.
Para narasumber sepakat bahwa menjaga eksistensi Bahasa Indonesia tidak berarti menolak bahasa lain. Sebaliknya, penggunaan bahasa perlu ditempatkan secara proporsional agar Bahasa Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan global.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus melestarikan Bahasa Indonesia. Dengan demikian, Bahasa Indonesia dapat digunakan secara baik dan benar dalam berbagai aspek kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....