Pokmaswas Nanga Bere Lepas 4.370 Tukik, Kembangkan Konservasi, Wisata Edukasi Penyu

  • 23 Apr 2026 06:54 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Bangko Bersatu di Desa Nanga Bere, Lembor Selatan, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menunjukkan komitmennya dalam pelestarian penyu. Sejak berjalan beberapa tahun terakhir, kegiatan konservasi yang dilakukan telah berhasil melepasliarkan sekitar 4.370 ekor tukik ke laut.

Ketua Ikatan Pemuda Peduli Konservasi sekaligus anggota Pokmaswas Bangko Bersatu, Fadil Mubarak, mengatakan jenis penyu yang dikonservasi di kawasan tersebut terdiri dari penyu lekang dan penyu sisik.

“Sejauh ini totalnya sudah di angka 4.370-an ekor yang telah kita lepasliarkan ke laut. Jenisnya ada penyu lekang dan penyu sisik,” ujarnya kepada RRI, Kamis 23 April 2026.

Dirinya juga menyampaikan, adapun jumlah tersebut merupakan akumulasi dari beberapa tahun terakhir.

“Periode 2017 sampai 2020 itu sekitar 624 ekor tukik. Sisanya dari tahun 2021 sampai 2025,” katanya.

Untuk tahun 2026, Fadil menyampaikan bahwa pihaknya baru mengamankan dua sarang penyu dan masih menunggu proses penetasan.

“Di 2026 sejauh ini baru kita amankan dua sarang, belum ada penetasan,” ungkapnya.

Selain fokus pada konservasi, kawasan Nanga Bere juga mulai dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Pengunjung dapat melihat langsung proses penangkaran semi alami, rumah edukasi, hingga bak pembesaran tukik.

“Wisatawan bisa melihat langsung tukik, bahkan kami libatkan dalam kegiatan pelepasan ke laut,” kata Fadil.

Kegiatan pelepasan tukik biasanya dilakukan secara insidental, tergantung waktu penetasan. Namun, terdapat agenda rutin setiap peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang dijadikan sebagai momen seremonial pelepasan.

“Event 17 Agustus itu sudah pasti kita lakukan pelepasan tukik,” ujarnya.

Keterlibatan masyarakat setempat juga dinilai cukup baik. Dua sarang yang diamankan tahun ini merupakan hasil pemantauan warga di Kampung Bangko.

“Monitoring dilakukan oleh masyarakat sendiri, khususnya anak-anak kampung yang aktif menggaungkan konservasi penyu,” katanya.

Di sisi lain, kawasan Nanga Bere juga memiliki potensi ekonomi melalui produk lokal, salah satunya madu hutan yang telah dikembangkan menjadi produk UMKM.

Namun demikian, pengembangan wisata dan konservasi di wilayah tersebut masih menghadapi kendala utama, yakni aksesibilitas. Jalan darat menuju lokasi masih berupa jalur berbatu, sementara akses laut membutuhkan biaya yang relatif besar.

“Kalau jalur darat dari Nanga Lili ke Nangabere bisa 1 sampai 2 jam, tapi dari Labuan Bajo bisa sampai 4–5 jam karena kondisi jalan yang cukup ekstrem. Kalau lewat laut, biaya sewa kapal sekitar Rp1–2 juta dengan waktu tempuh 1,5 sampai 2 jam,” ucapnya.

Lebih lanjut, usulan perbaikan akses jalan telah beberapa kali diajukan ke pemerintah daerah, namun belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.

“Sudah sering diajukan, tapi mungkin karena keterbatasan keuangan daerah, sehingga kami berharap ada perhatian dari pemerintah pusat,” ujarnya.

Fadil berharap upaya konservasi yang dilakukan masyarakat Nanga Bere dapat terus mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat luas, agar pelestarian penyu dapat berjalan berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga melalui potensi wisata dan ekonomi lokal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....