Waspada Malaria Impor Ancam Eliminasi di NTT

  • 21 Apr 2026 11:02 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Sikka – Di tengah tren penurunan kasus malaria lokal di Nusa Tenggara Timur, tenaga kesehatan mengingatkan adanya peningkatan risiko kasus malaria impor dari luar daerah. Ancaman ini dinilai berpotensi memicu kembali penularan di wilayah yang telah mendekati status eliminasi.

Peringatan tersebut disampaikan Dokter Roy Boris di Maumere, Senin 20 April 2026, yang menyoroti tingginya mobilitas penduduk sebagai faktor utama masuknya kasus dari luar wilayah. Menurutnya, arus perjalanan dari daerah endemis tinggi seperti Papua menjadi celah yang perlu diwaspadai.

Ia menjelaskan, banyak pasien datang dengan keluhan demam setelah bepergian, namun tidak langsung dicurigai sebagai malaria. Kondisi ini berisiko memperlambat penanganan dan meningkatkan potensi penularan di lingkungan sekitar.

Secara global, hingga 2025 tercatat 47 negara telah dinyatakan bebas malaria, sementara jumlah negara endemis menurun signifikan. Meski demikian, pada 2024 masih terjadi sekitar 282 juta kasus dengan 610 ribu kematian di seluruh dunia.

Di Indonesia, estimasi kasus malaria pada 2024 mencapai lebih dari 543 ribu, dengan sekitar 93 persen kasus terkonsentrasi di Papua. Tingginya mobilitas dari wilayah tersebut disebut berkontribusi pada munculnya kasus impor di berbagai daerah, termasuk NTT.

Pada tingkat provinsi, sekitar 41 persen kabupaten dan kota di NTT telah mencapai eliminasi malaria. Namun, Kabupaten Sumba Barat Daya masih berstatus endemis tinggi, sedangkan Sikka dan Flores Timur berada pada kategori sedang hingga rendah.

Malaria sendiri merupakan penyakit akibat parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Gejala khasnya meliputi fase menggigil, demam tinggi, dan berkeringat yang dapat berujung komplikasi serius jika tidak ditangani cepat.

Di RSUD TC Hillers Maumere, sejumlah kasus menunjukkan pola serupa, yakni pasien yang baru kembali dari wilayah seperti Timika mengalami demam. Setelah pemeriksaan, mereka dinyatakan positif malaria meski sebelumnya hanya mengonsumsi obat penurun panas tanpa diagnosis.

Tenaga kesehatan menilai rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap riwayat perjalanan menjadi tantangan utama dalam pengendalian malaria impor. Edukasi publik dinilai perlu diperkuat agar masyarakat lebih peka terhadap gejala setelah bepergian.

Momentum Hari Malaria Sedunia setiap 25 April dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran tersebut. Tenaga kesehatan juga mendorong penerapan program 1-2-5 guna mempercepat deteksi, investigasi, dan respons terhadap kasus.

Dokter Roy menegaskan, eliminasi malaria tidak hanya soal menurunkan angka kasus, tetapi memastikan tidak ada lagi penularan baru. Hingga kini, kewaspadaan terhadap kasus impor terus ditingkatkan guna menjaga capaian eliminasi di NTT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....