Pelatihan GVB Perkuat Perspektif Gender, Peserta Siap Jadi Agen Perubahan
- 14 Apr 2026 21:34 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai — Yayasan Gembala Baik Ruteng berkolaborasi dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Kabupaten Manggarai menggelar pelatihan Gender-Based Violence (GBV) pada 8 hingga 10 April 2026. Pelatihan ini diikuti peserta dari berbagai instansi dan elemen masyarakat.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat pemahaman, pencegahan, serta respons terhadap kekerasan berbasis gender yang hingga kini masih menjadi tantangan di berbagai lapisan masyarakat.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak melakukan refleksi kritis terhadap realitas ketimpangan gender. Melalui pendekatan partisipatif, diskusi mendalam, dan simulasi kasus, peserta dilatih untuk mengenali berbagai bentuk kekerasan yang kerap tersembunyi, sekaligus merumuskan langkah strategis dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas P3A Kabupaten Manggarai, Susana Surya Sukut, menegaskan bahwa pelatihan tersebut menempatkan kesetaraan gender sebagai prinsip yang harus diwujudkan dalam praktik sehari-hari. “Kesetaraan gender bukan sekadar konsep, tetapi harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kehadiran narasumber yang merupakan mantan dosen Kajian Gender Universitas Indonesia turut memperkaya materi pelatihan. Menurutnya, pendekatan akademis yang kuat dan kontekstual mampu membuka wawasan peserta secara lebih mendalam terkait isu gender, sekaligus mendorong terbentuknya perspektif yang adil dan inklusif.
Para peserta menyambut kegiatan ini dengan antusias. Mereka mengaku memperoleh pemahaman baru sekaligus memperkuat komitmen untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Tidak hanya berhenti pada tataran teori, peserta juga didorong untuk mengimplementasikan nilai-nilai kesetaraan gender dalam praktik nyata, baik di keluarga, komunitas, maupun institusi tempat mereka bekerja.
Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir individu dengan sensitivitas gender yang tinggi, mampu merespons kasus kekerasan secara tepat, serta aktif mendorong terciptanya lingkungan yang aman, adil, dan inklusif.
Kolaborasi antara lembaga dan masyarakat ini menjadi langkah konkret dalam upaya memutus rantai kekerasan berbasis gender dan membangun masa depan yang lebih setara.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....