PT Ingram Dorong Ekonomi Sirkular, Sampah ke Warloka Berkurang 60 Persen

  • 11 Apr 2026 23:00 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - PT Ingram melalui program Positif Bajo (Pilah Olah Sampah secara Inovatif) terus memperkuat sistem pengelolaan sampah terintegrasi di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan target mengurangi hingga 60 persen volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Warloka. Upaya ini dilakukan melalui pengolahan sampah dari hulu hingga hilir berbasis ekonomi sirkular.

Direktur Utama PT Ingram, Febriyanti, mengatakan bahwa persoalan sampah di kawasan destinasi wisata super prioritas seperti Labuan Bajo harus ditangani melalui pemilahan yang tepat sejak sumbernya, disertai inovasi pengolahan yang berkelanjutan.

Salah satu inovasi utama yang dijalankan adalah pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Metode ini dinilai efektif mengurai sampah organik dalam waktu singkat, sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi berupa pakan ternak berprotein tinggi.

“Sebagian sampah organik kami olah melalui budidaya maggot, dan sebagian lainnya didistribusikan langsung kepada peternak babi di sekitar wilayah ini. Dengan cara ini, sampah organik tidak lagi menumpuk menjadi pencemar lingkungan, tetapi kembali menjadi sumber manfaat ekonomi,” kata Febriyanti, usai kegiatan Forum Kolaborasi dan Paparan Program Kegiatan bertema “Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Berbasis Masyarakat” di Hotel Katamaran, Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, Sabtu 11 April 2026.

Selain pengolahan organik, PT Ingram juga memperluas edukasi pengelolaan sampah ke sektor pendidikan. Hingga kini, program Positif Bajo telah menjangkau lebih dari 15 sekolah, mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi, termasuk Politeknik El Bajo.

Melalui edukasi tersebut, siswa diajarkan pentingnya memilah sampah sejak dini, terutama memisahkan sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan kaca agar dapat masuk ke rantai daur ulang dalam kondisi bersih.

Di sisi hilir, PT Ingram turut memasang trash barrier atau jaring penahan sampah di aliran sungai kawasan Kampung Baru untuk mencegah sampah masuk ke laut. Dalam kurun satu tahun terakhir, fasilitas tersebut berhasil menjaring sekitar 13 ton sampah, yang sebagian besar berupa sampah kemasan plastik sekali pakai.

“Masalah utama sebenarnya bukan pada material plastik itu sendiri, tetapi pada sistem pengelolaannya. Jika pengelolaan dimulai dari rumah tangga, sekolah, hingga sungai, maka beban TPA Warloka dapat berkurang secara signifikan,” ungkap Febriyanti.

Melalui pendekatan ekonomi sirkular ini, PT Ingram berharap Labuan Bajo tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga menjadi contoh kota wisata yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan dalam pengelolaan lingkungan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....