Percepat Respons Kamtibmas, Brimob Rencanakan Penambahan Batalyon di Flores

  • 09 Apr 2026 13:44 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Satuan Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) merencanakan pembentukan satu batalyon baru di wilayah Flores guna mempercepat respons terhadap gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Rencana ini juga mendapat dukungan dari pemerintah daerah di wilayah kerja Brimob, yang menilai kehadiran pasukan tambahan sangat dibutuhkan untuk menjawab tantangan geografis kepulauan.

Wakil Komandan Batalyon B Pelopor Labuan Bajo, AKP Antonio Cortereal, menyampaikan, wilayah kerja Batalyon B mencakup sembilan kabupaten di Pulau Flores, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, hingga Lembata.

“Dengan cakupan wilayah yang luas ini, tentu dibutuhkan kekuatan dan distribusi pasukan yang ideal agar respons terhadap gangguan kamtibmas bisa lebih cepat dan efektif,” kata AKP Antonio, Kamis 9 April 2026.

Saat ini, kekuatan Brimob di bawah Batalyon B Pelopor Labuan Bajo tersebar dalam empat kompi yang berada di beberapa titik strategis di Pulau Flores, yakni Kompi 1 Yon B Pelopor Maumere, Kompi 2 Yon B Pelopor Manggarai, Kompi 3 Yon B Pelopor Ende, dan Kompi 4 Yon B Pelopor Labuan Bajo.

Meski demikian, mobilitas pasukan di lapangan masih menghadapi kendala jarak dan kondisi geografis.

“Perjalanan dari Labuan Bajo ke Ende saja bisa mencapai 12 jam. Untuk ke Lembata bahkan bisa memakan waktu hingga 24 jam karena harus melalui jalur darat dan laut. Ini tentu tidak efisien dalam situasi yang membutuhkan penanganan cepat,” ungkapnya.

Dirinya juga menambahkan, lamanya waktu tempuh berpotensi menghambat efektivitas penanganan di lapangan, bahkan membuat personel mengalami kelelahan sebelum tiba di lokasi.

“Bisa saja saat kita tiba, situasi sudah selesai atau justru memburuk. Karena itu, efisiensi waktu menjadi hal yang sangat krusial,” katanya.

Pembentukan batalyon baru ini juga diarahkan untuk mengantisipasi potensi konflik di sejumlah wilayah rawan, seperti Adonara. Dengan penempatan pasukan yang lebih dekat, waktu respons dapat dipangkas secara signifikan.

“Jika pasukan ditempatkan di Lembata, maka ketika terjadi gangguan di Adonara, personel hanya membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 menit untuk tiba di lokasi,” ucapnya.

Dukungan terhadap rencana ini juga datang dari pemerintah daerah di wilayah Flores, termasuk Kabupaten Lembata yang berharap kehadiran Brimob dapat memperkuat stabilitas keamanan di daerahnya.

Selain itu, pihak Brimob juga berharap pemerintah daerah dapat mendukung dari sisi fasilitas awal, seperti penyediaan lahan atau bangunan yang dapat dimanfaatkan sebagai markas sementara sambil menunggu pembangunan markas permanen.

Meski demikian, realisasi pembentukan batalyon baru tersebut masih menunggu keputusan dari Markas Besar Polri, terutama terkait peningkatan tipe Polda NTT.

“Keputusan tetap ada di Mabes Polri, termasuk dari Asrena. Jika Polda NTT dinaikkan menjadi tipe A Plus atau tetap tipe A dengan pertimbangan wilayah kepulauan, maka peluang pembentukan empat batalyon Brimob di NTT terbuka,” ujar AKP Antonio.

Penambahan batalyon ini diharapkan menjadi solusi strategis untuk memperpendek waktu respons serta memperkuat kehadiran aparat dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Flores dan sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....