Geografi Flores Hambat Respons Brimob, Mobilisasi Pasukan Bisa Capai 24 Jam
- 09 Apr 2026 13:20 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Satuan Brimob Polda Nusa Tenggara Timur (NTT) menyoroti tantangan geografis yang signifikan dalam upaya mobilisasi pasukan di wilayah Flores. Jarak tempuh antarwilayah yang jauh dinilai menghambat efektivitas operasional kepolisian, khususnya dalam merespons gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat secara cepat.
Wakil Komandan Batalyon B Pelopor Labuan Bajo, AKP Antonio Cortereal, mengungkapkan, pergeseran pasukan dari Labuan Bajo ke sejumlah wilayah di Flores membutuhkan waktu yang tidak singkat. Kondisi ini menjadi kendala serius dalam upaya percepatan penanganan konflik.
“Perjalanan dari Labuan Bajo ke Ende membutuhkan waktu sekitar 12 jam melalui jalur darat. Sementara menuju Lembata, total waktu tempuh bisa mencapai 24 jam karena harus melalui jalur darat dan penyeberangan laut,” ujarnya, kepada sejumlah media di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Kamis 9 April 2026.
Menurutnya, lamanya waktu perjalanan berdampak langsung pada efektivitas pelayanan kepolisian di lapangan.
“Artinya tidak efisien. Kita sudah capek di jalan, bisa sakit di jalan, sementara situasi di lokasi sudah terlanjur memburuk. Ini menjadi keterlambatan dalam pelayanan,” tegasnya.
Selain persoalan waktu, kondisi fisik personel juga menjadi perhatian. Perjalanan panjang yang menguras tenaga berpotensi menurunkan kesiapan anggota sebelum tiba di lokasi tugas.
“Kami ini pasukan yang dituntut selalu siap. Tapi kalau perjalanan terlalu panjang, stamina anggota bisa menurun sebelum sampai di lokasi. Ini tentu berisiko dalam penanganan situasi darurat,” tambahnya.
Saat ini, kekuatan Brimob di Pulau Flores yang berada di bawah Batalyon B Pelopor Labuan Bajo terdiri dari empat kompi yang tersebar di sejumlah wilayah, yakni Kompi 1 di Maumere, Kompi 2 di Manggarai, Kompi 3 di Ende, dan Kompi 4 di Labuan Bajo.
Selain itu, Batalyon B Pelopor juga membawahi wilayah operasional yang cukup luas, mencakup sembilan kabupaten di Pulau Flores dan sekitarnya, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, hingga Lembata.
“Wilayah yang kami tangani ini sangat luas, mencakup hampir seluruh Flores sampai ke Lembata. Ini juga yang menjadi tantangan besar dalam hal kecepatan mobilisasi pasukan,” katanya.
Meski telah tersebar, luasnya wilayah dan kondisi geografis yang menantang membuat jangkauan pelayanan masih belum optimal, terutama untuk wilayah-wilayah yang membutuhkan penanganan cepat.
Sebagai solusi, Brimob Polda NTT mendorong rencana pembentukan batalyon baru di wilayah Flores. Kehadiran satuan tambahan yang lebih dekat dengan titik-titik rawan dinilai dapat memangkas waktu respons secara signifikan.
“Kalau ada pasukan yang lebih dekat, misalnya di Lembata, maka ke Adonara itu hanya sekitar 15 sampai 20 menit. Ini yang kita butuhkan, respons cepat sebelum situasi membesar,” ungkapnya.
Saat ini, rencana pembentukan batalyon baru tersebut masih menunggu persetujuan dari Mabes Polri. Pertimbangan efisiensi anggaran juga menjadi faktor, mengingat mobilisasi melalui jalur udara memerlukan biaya besar, sementara jalur laut kerap terkendala cuaca dan keterlambatan.
Adapun dengan kondisi geografis yang menantang, penguatan infrastruktur dan penempatan pasukan yang strategis dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan kecepatan dan efektivitas penanganan keamanan di wilayah Flores.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....