Pengukuhan Guru Besar Undana, Gubernur Dorong Kolaborasi Akademisi - Pemerintah
- 09 Apr 2026 10:29 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar di Universitas Nusa Cendana (Undana), yang berlangsung di Auditorium Undana pada Rabu, 8 April 2026 siang. Dalam kesempatan tersebut, tiga akademisi resmi dikukuhkan sebagai guru besar, yakni Prof. Dr. Linda W. Fanggidae, Prof. Dr. Drs. William Djani, dan Prof. Zakaris Seba Ngara.
Dengan penambahan tersebut, Undana kini telah memiliki total 79 guru besar sejak berdiri pada 1 September 1962. Capaian ini semakin menegaskan peran Undana sebagai pilar strategis dalam pembangunan sumber daya manusia dan pusat pengembangan ilmu pengetahuan di Nusa Tenggara Timur.
Dalam sambutannya, Gubernur Melki memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian akademik para guru besar. Ia menegaskan bahwa kepakaran mereka menjadi aset intelektual penting dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah, mulai dari sektor kesehatan, infrastruktur, hingga pengelolaan sumber daya alam berbasis pendekatan ilmiah dan humanis.
Lebih lanjut, Gubernur menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Menurutnya, pembangunan NTT membutuhkan dukungan riset akademik yang aplikatif serta ide-ide inovatif agar kebijakan yang diambil lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Ia berharap kolaborasi antara Undana dan pemerintah dapat mengubah tantangan geografis dan sosial-ekonomi menjadi keunggulan kompetitif.
“Perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Pemerintah daerah membutuhkan dukungan pemikiran dan hasil riset akademik untuk menjawab berbagai persoalan pembangunan di daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Undana, Prof. Dr. Ir. Jefri S. Bale, menyampaikan bahwa penambahan guru besar mencerminkan peningkatan kapasitas kelembagaan dalam melahirkan kepemimpinan intelektual. Ia juga menyoroti pentingnya kecerdasan humanis (Humanistic Intelligence) di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), di mana peran guru besar tetap krusial dalam memberikan makna, empati, dan konteks nyata bagi ilmu pengetahuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....