Berdikari di Labuan Bajo: Komunitas Kreatif Soroti Minimnya Ruang Ekspresi

  • 01 Apr 2026 11:40 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Status Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai destinasi pariwisata super prioritas belum sepenuhnya dirasakan oleh pelaku industri kreatif lokal. Minimnya dukungan fasilitas dan ruang berekspresi membuat sejumlah komunitas harus bertahan dan berkembang secara mandiri.

Hal ini disampaikan Ketua Komunitas Stand Up Indo Labuan Bajo, Koko Ama, dalam diskusi publik Sunset Talk yang digelar Radio Republik Indonesia (RRI) SP Labuan Bajo bersama Mawatu di Amfiteater Mawatu, Labuan Bajo, Minggu 29 Maret 2026. Ia menilai, selama ini komunitasnya lebih banyak menjalin kolaborasi dengan pihak swasta dibandingkan pemerintah daerah.

“Selama ini kami berdikari, berdiri sendiri dan berjuang di lapangan. Kami juga ikut mempromosikan Labuan Bajo melalui komedi,” ujar Koko Ama di hadapan para pemangku kebijakan.

Koko Ama juga menyoroti adanya ketimpangan dalam bentuk apresiasi terhadap karya pelaku kreatif lokal. Ia mengungkapkan bahwa penyelenggara acara dari luar daerah justru lebih memahami nilai ekonomi dan kreativitas yang mereka miliki.

Menurutnya, komunitasnya pernah mendapatkan bayaran hingga dua digit saat terlibat dalam kegiatan berskala internasional seperti KTT ASEAN dan G20. Namun, kondisi berbeda kerap dirasakan ketika bekerja sama dengan penyelenggara lokal atau instansi di daerah.

“EO dari luar lebih memahami value kami sebagai komedian. Sementara di daerah, ruang dan apresiasi itu masih kurang,” katanya.

Ia berharap, pembangunan infrastruktur pariwisata yang masif di Labuan Bajo dapat diimbangi dengan penguatan ekosistem industri kreatif lokal.

“Kami berharap pemerintah juga memberi perhatian pada industri kreatif, terutama dalam penyediaan fasilitas dan ruang untuk berekspresi,” ujarnya.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, komunitas Stand Up Indo Labuan Bajo yang berdiri sejak 2020 tetap aktif berkegiatan. Selain sebagai ruang hiburan, komunitas ini juga menjadi wadah bagi generasi muda, termasuk mahasiswa, untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum.

“Tujuan kami mencetak talenta-talenta baru. Siapa tahu ke depan lahir moderator atau influencer hebat dari Labuan Bajo,” ucap Koko Ama.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF), Andhy MT Marpaung, mengatakan pihaknya terbuka untuk menjalin komunikasi dan kolaborasi dengan komunitas kreatif.

Lebih lanjut, ia mengajak pelaku industri kreatif untuk aktif membangun komunikasi langsung dengan BPOLBF guna menciptakan kerja sama yang berkelanjutan.

“Kantor kami terbuka untuk diskusi. Kami ingin kolaborasi yang serius, terutama dengan pihak yang memiliki rekam jejak jelas dan semangat untuk maju bersama,” kata Andhy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....