Krisis Iklim Ancam NTT, Harga Pangan Naik akibat Kekeringan
- 27 Mar 2026 11:54 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende — Dampak perubahan iklim kini semakin nyata dirasakan masyarakat, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal ini disampaikan oleh Prisilia Theresia Dapa, M.Sc in Carbon Management dari University of Edinburgh, saat diwawancarai RRI Ende, Jumat 27 Maret 2026.
Prisilia menjelaskan perubahan iklim merupakan kondisi meningkatnya suhu bumi akibat emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga merambah ke berbagai aspek kehidupan masyarakat.
“Perubahan iklim itu multi-aspek, bukan hanya soal cuaca. Dampaknya sampai ke ketahanan air, pangan, bahkan ekonomi masyarakat,” katanya. Ia mengungkapkan, salah satu dampak nyata yang pernah terjadi di NTT adalah kekeringan panjang pada 2018–2019 yang berlangsung hingga dua sampai tiga bulan dan menyebabkan gagal panen di sejumlah wilayah.
“Kalau terjadi gagal panen, maka harga bahan pokok naik. Dan yang paling terdampak adalah masyarakat ekonomi rendah,” ungkapnya. Prisilia menambahkan, kondisi ini seringkali tidak disadari sebagai bagian dari krisis iklim. Banyak masyarakat menganggapnya sebagai fenomena alam biasa, padahal memiliki keterkaitan erat dengan perubahan iklim global.
Menurutnya, berdasarkan kesepakatan global Paris Agreement, kenaikan suhu bumi harus dijaga tidak melebihi 1,5 derajat Celsius. Namun saat ini, suhu global sudah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius.
“Kalau kita tidak berhasil menahan kenaikan suhu ini, maka ke depan dampaknya akan semakin parah dan sulit dikendalikan,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa perubahan iklim bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat.
“Kesalahan umum kita adalah menganggap ini bukan tanggung jawab kita. Padahal semua tindakan kita berdampak pada lingkungan dan orang lain,” pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....