Idulfitri Dimaknai sebagai Latihan Empati Sosial

  • 21 Mar 2026 17:38 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Idulfitri dimaknai sebagai puncak latihan empati setelah sebulan menjalani ibadah puasa Ramadan. Lapar yang dirasakan tidak sekadar ritual, tetapi menjadi cara memahami kondisi sesama yang hidup dalam keterbatasan.

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. H. Mustari Mustafa saat dikonfirmasi RRI, Sabtu, 21 Maret 2026. Ia menegaskan esensi puasa adalah membangun kepekaan sosial yang berkelanjutan.

Menurutnya, Idulfitri menjadi momentum refleksi atas kualitas ibadah yang telah dijalani selama Ramadan. Ia mengingatkan agar ibadah tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan tanpa dampak nyata dalam kehidupan sosial.

“Puasa melatih kita merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dari situ lahir empati yang harus terus dijaga,” ujarnya.

Mustari menilai kepedulian terhadap sesama menjadi indikator utama keberhasilan spiritual seseorang. Ia juga menekankan pentingnya menjaga silaturahmi, termasuk dengan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal.

“Yang masih hidup kita layani dengan baik, sementara yang telah meninggal tetap kita doakan,” katanya.

Ia menambahkan, menjaga hubungan dengan lingkungan dan sahabat orang tua juga menjadi bagian dari merawat nilai kebaikan yang telah diwariskan.

Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya membangun kehidupan sosial yang dilandasi toleransi dan kebersamaan. Menurutnya, empati harus terus diasah agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap individualistik.

Idulfitri, kata dia, bukan sekadar perayaan, tetapi menjadi titik awal perubahan sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....