BPBD Petakan Ulang Titik Rawan Longsor, Imbau Masyarakat Tingkatkan Kewaspadaan
- 19 Mar 2026 16:00 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ende kembali melakukan pemetaan titik rawan longsor menyusul meningkatnya intensitas curah hujan di sejumlah wilayah. Hal ini disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Ende, Bapak Marselus Eclesianus Meta, ST., M. Eng saat diwawancarai RRI Ende dalam program siaran Florata Pagi, Rabu , 18 Maret 2026.
Menurut Marselus Meta, pemetaan tersebut bukan hanya dilakukan akibat insiden longsor di kilometer 12, wilayah Roa detusoko, melainkan merupakan bagian dari kewajiban BPBD untuk terus memperbarui data kebencanaan secara berkala.
Ia menjelaskan, meningkatnya curah hujan menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan tingkat kerawanan longsor, baik kategori sedang maupun tinggi. Oleh karena itu, pemetaan dilakukan secara menyeluruh di seluruh wilayah kabupaten, tidak hanya terfokus pada satu titik kejadian.
Terkait longsor di Roa Detusoko, Marselus Meta mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya peningkatan kapasitas jalan, pemangkasan tebing, serta kondisi tanah yang belum stabil. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan curah hujan tinggi, maka potensi longsor meningkat hingga menutup badan jalan.
Secara keseluruhan, lanjutnya, BPBD telah melakukan pemetaan risiko bencana longsor berdasarkan data di masing-masing wilayah. Hasil pemetaan ini nantinya akan disampaikan kepada masyarakat, termasuk kepada rekan-rekan jurnalis, sebagai bagian dari upaya transparansi dan kesiapsiagaan.
Dalam upaya mitigasi, BPBD menerapkan dua pendekatan, yakni mitigasi struktural dan non-struktural. Selama ini, pendekatan non-struktural lebih dominan dilakukan, seperti melalui imbauan, edukasi, sosialisasi, serta koordinasi lintas sektor terkait penanganan lingkungan, termasuk pemangkasan tebing.
Namun ke depan, BPBD juga akan memperkuat mitigasi struktural, terutama di titik-titik rawan longsor. Langkah ini dilakukan melalui pendekatan vegetasi maupun pembangunan struktur penahan seperti beton guna meminimalisir risiko bencana.
Marselus Meta juga mengimbau masyarakat yang tinggal di wilayah rawan longsor untuk tetap waspada, mengenali tanda-tanda awal terjadinya longsor, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana.
Selain itu, peran aktif pemerintah desa dan kelurahan sangat diharapkan, terutama dalam memasang rambu-rambu peringatan di kawasan rawan longsor maupun daerah rawan jatuhan batu.
“Karena titik rawan longsor cukup banyak, diperlukan kolaborasi semua pihak, tidak hanya BPBD, tetapi juga pemerintah desa dan masyarakat,” ujarnya.
Dengan langkah pemetaan dan mitigasi yang terus diperkuat, diharapkan risiko bencana longsor di Kabupaten Ende dapat diminimalisir serta keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....