Jelang Nyepi, Umat Hindu Ende Gelar Tawur Kesange Penuh Makna

  • 18 Mar 2026 14:03 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende — Umat Hindu di Kabupaten Ende menggelar upacara Tawur Kesange pada Rabu 18 Maret 2026 di Pura yang berlokasi di Jalan Banteng, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Pinandita I Wayan Arnama, Jero Mangku di Pura Puseh Woloare, sekaligus Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Ende periode 2022–2027, menjelaskan bahwa rangkaian ritual telah dimulai sejak sehari sebelumnya.

“Sebelumnya, pada Selasa, kami melaksanakan persembahyangan di sejumlah pura, seperti di Pura Puseh Woloare, Pura Dalem Kahyangan Wolowona dan di Pura Desa Mahadewa. Kemudian sore harinya dilanjutkan dengan upacara Melasti di Pantai Bita Beach,” ujarnya saat diwawancarai RRI Ende.

Ia menambahkan, tradisi Melasti di Kabupaten Ende secara turun-temurun dilaksanakan di Pantai Bita Beach sebagai bentuk penyucian diri dan alam semesta.

“Melasti bertujuan membersihkan segala kotoran, baik dalam diri manusia maupun alam semesta, sehingga umat dapat menyambut Nyepi dalam keadaan suci,” jelasnya.

Setelah Melasti, umat Hindu melanjutkan dengan pelaksanaan Tawur Kesange yang diikuti oleh seluruh umat serta pengurus PHDI Kabupaten Ende.

“Tawur Kesange dilaksanakan dengan persembahyangan bersama agar jagad atau daerah ini selalu damai,” katanya.

Ia menegaskan, seluruh rangkaian ritual tetap dilaksanakan meskipun menghadapi kendala seperti cuaca.

“Kalaupun hujan, kegiatan tetap berjalan karena harus diselesaikan hari ini. Setelah dari Pura Desa Mahadewa, kami lanjutkan ke Pura Puseh Woloare dan Pura Dalem Kahyangan Wolowona,”tambahnya.

Usai Tawur Kesange, umat Hindu akan melaksanakan ritual pengerupukan di rumah masing-masing pada sore hari sekitar pukul 18.00 Wita.

Selanjutnya, umat akan memasuki puncak Hari Raya Nyepi pada Kamis (19/3/2026) dengan menjalankan Catur Brata Penyepian selama 24 jam, mulai pukul 06.00 hingga 06.00 keesokan harinya.

Adapun Catur Brata Penyepian meliputi Amati Geni (tidak menyalakan api atau memasak), Amati Karya (tidak bekerja), Amati Lelungan (tidak bepergian) , Amati Lelanguan ( tidak mencari hiburan ).

“Makna utama dari Nyepi adalah melakukan introspeksi diri dalam suasana sunyi atau hening, sehingga umat dapat membersihkan diri secara lahir dan batin,” jelasnya.

Ia berharap, melalui perayaan Nyepi tahun ini, umat Hindu di Kabupaten Ende semakin kompak serta terus menjaga kerukunan antarumat beragama.

“dan berharap umat Hindu tetap rukun dan damai, serta terus menjaga toleransi dengan umat Katolik, Muslim, Protestan, dan Buddha di Kabupaten Ende,” pungkasnya.

Perayaan Nyepi di Ende tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga memperkuat nilai-nilai kebersamaan dan toleransi di tengah keberagaman masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....