Bonefasius Rampung: Bahasa Cermin Intelektualitas dan Profesionalitas

  • 17 Mar 2026 21:09 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai – Penulis buku Fatamorgana Bahasa Indonesia Jilid 3, Bonefasius Rampung, menegaskan bahwa bahasa merupakan cerminan kualitas berpikir dan profesionalitas seseorang. Hal tersebut disampaikannya dalam pemaparan saat kegiatan bedah buku karyanya di Aula GUT Lantai 5, Selasa 17 Maret 2026.

Ia menggunakan analogi “fatamorgana” untuk menggambarkan kesalahan berbahasa yang tampak benar di permukaan, namun sesungguhnya keliru secara makna. Dalam bukunya, kesalahan berbahasa disebut sebagai “fatamorgana intelektual” yang menipu dengan kesan kebenaran semu.

Karena itu, ia mengajak pembaca untuk mengedepankan ketelitian melalui proses penyuntingan serta refleksi kritis, baik dalam komunikasi lisan maupun tulisan.

Sementara itu, dalam sesi pemaparan, Antonius Nesi mengulas isi buku secara kritis dengan menyoroti fenomena kesalahan berbahasa dalam berbagai konteks komunikasi. Ia menjelaskan bahwa kesalahan berbahasa kerap terlihat benar, namun sebenarnya menyesatkan secara makna. “Kesalahan berbahasa sering kali bukan sekadar masalah teknis linguistik, tetapi berkaitan dengan kesadaran berbahasa dan dinamika sosial masyarakat,” ungkapnya.

Menurutnya, persoalan berbahasa tidak semata-mata bersifat teknis linguistik, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran berbahasa serta dinamika sosial masyarakat. Buku ini pun mengkaji berbagai aspek linguistik, mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, hingga semantik dan pragmatik, disertai contoh konkret yang sering ditemukan dalam praktik komunikasi sehari-hari.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Unit Perpustakaan dan Laboratorium, NS. Yuliana Suryati, yang menegaskan peran strategis perpustakaan sebagai pusat literasi dan pengembangan intelektual.

Ia menyebut perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi juga sebagai ruang hidup bagi pertukaran gagasan dan inspirasi. “Kami ingin perpustakaan menjadi ruang bertemunya gagasan, pengetahuan, dan inspirasi, bukan sekadar tempat menyimpan buku,” kata Yuliana.

Menurutnya, bedah buku menjadi salah satu program strategis untuk meningkatkan kualitas literasi di lingkungan kampus, sekaligus mendorong mahasiswa agar tidak hanya membaca, tetapi juga memahami secara mendalam isi dan pesan yang disampaikan penulis.

Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi akademik, tetapi juga mendorong tumbuhnya budaya literasi di kalangan mahasiswa. Panitia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat baca, memperluas wawasan, serta mengasah kemampuan analisis dan berpikir kritis.

Melalui kegiatan ini, UPT Perpustakaan Unika St. Paulus Ruteng menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program inovatif guna memperkuat tradisi akademik dan budaya literasi di lingkungan kampus.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....