Waspada Fenomena 'Viral Dulu Fakta Belakangan' di Medsos

  • 13 Mar 2026 07:58 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende - Kecepatan penyebaran informasi di era digital sering kali menjadi bumerang ketika masyarakat lebih mendahulukan ambisi viral dibandingkan memverifikasi kebenaran sebuah konten. Fenomena potongan video obrolan atau podcast yang disebar tanpa konteks utuh kini menjadi tantangan berat dalam menjaga ekosistem informasi yang sehat.

Demikian disampaikan Petrick Yohanis Meok (Duta Rupiah Flobamorata 2024) kepada RRI dalam Obrolan SPADA pada Senin, 2 Maret 2026. Petrick menyebutkan dorongan untuk sekadar menghibur dan mengejar popularitas sering kali mengesampingkan etika serta keaslian informasi yang disampaikan.

"Anak muda sekarang tuh lebih sering mengonsumsi informasi secara instan ya, seperti hanya menonton belasan detik awal dari sebuah video berdurasi panjang. Kebiasaan membagikan konten sebelum menyimaknya sampai selesai tanpa sengaja menjadikan seseorang sebagai mata rantai penyebaran berita bohong atau hoaks," ujar Petrick.

Menurutnya, literasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendasar agar masyarakat tidak mudah terpicu emosi oleh unggahan yang provokatif. Langkah paling cerdas yang bisa dilakukan adalah melakukan komparasi informasi dengan mencari sumber atau saluran resmi guna memastikan validitas berita tersebut.

Fenomena komentar keliru akibat salah persepsi terhadap video potongan juga dianggap sebagai dampak nyata dari rendahnya minat membaca secara menyeluruh. "Setiap orang yang punya medsos itu harus punya sistem penyaringan pribadi yang kuat sebelum memutuskan untuk menekan tombol berbagi, harus cerdas," ucap Petrick.

Sikap kritis harus tetap dikedepankan, terutama saat menemui akun-akun yang sengaja menutup kolom komentar guna membatasi perspektif dari pihak lain. Dengan membandingkan tanggapan warganet lainnya, seseorang bisa mendapatkan bahan pertimbangan tambahan agar tidak terjebak dalam opini yang sempit dan menyesatkan.

Kesadaran kolektif untuk menjaga etika berdigital diharapkan mampu meminimalisir dampak buruk dari konten-konten yang sengaja dirancang demi kepentingan viralitas semata. Masyarakat diajak untuk lebih bijak mengelola rasa penasaran dan tidak mudah tergiur oleh tren yang belum tentu memberikan nilai manfaat positif.

Edukasi yang berkelanjutan mengenai pentingnya cek dan ricek akan terus dilakukan demi menciptakan ruang siber yang aman dan edukatif bagi warga NTT. Melalui pemahaman literasi yang mumpuni, diharapkan generasi muda mampu bertransformasi menjadi pengguna media sosial yang cerdas sekaligus bertanggung jawab.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....