Disparekrafbud Mabar: Program “FASMADEWI” dan Geowisata Dorong Pemerataan Ekonomi

  • 10 Mar 2026 23:27 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat terus berupaya memperluas dampak ekonomi pariwisata hingga ke desa-desa. Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Kebudayaan (Parekrafbud) Manggarai Barat, Stefanus Jemsifori, menegaskan pengembangan desa wisata menjadi salah satu strategi utama untuk mendorong pemerataan manfaat pariwisata.

Hal tersebut disampaikan Stefanus dalam pembukaan kegiatan Diklat Angkatan I Pemandu Geowisata yang diselenggarakan Persatuan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) DPW Labuan Bajo di Puncak Waringin, Labuan Bajo, 9 hingga 10 Maret 2026. Menurutnya, hingga saat ini sebagian besar wisatawan yang datang ke Manggarai Barat masih terfokus pada kawasan Taman Nasional Komodo.

“Sekitar 80 persen wisatawan yang datang ke Manggarai Barat hanya berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Karena itu, pemerintah daerah berupaya menghadirkan program yang dapat mendorong wisatawan juga berkunjung ke desa-desa wisata,” ujarnya.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah meluncurkan program inovasi “FASMADEWI” atau Fasilitasi Masyarakat Desa Wisata. Program ini dirancang untuk menata dan memperkuat potensi desa wisata, agar mampu menarik kunjungan wisatawan.

Stefanus juga mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat agar pariwisata tidak hanya berpusat di kawasan laut, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat di daratan.

“Program ini merupakan jawaban atas arahan pimpinan daerah untuk membawa uang dari laut ke darat. Harapannya, wisatawan yang datang juga bisa membelanjakan uangnya di desa-desa wisata melalui penataan yang baik,” ungkapnya.

Selain itu, pengembangan geowisata juga menjadi salah satu strategi penting dalam mendukung penguatan desa wisata. Geowisata dinilai memiliki potensi besar karena menonjolkan kekayaan bentang alam dan unsur kebumian yang unik.

Lebih lanjut ia menyampaikan, geowisata tidak hanya menampilkan panorama alam, tetapi juga mencakup kekayaan geologi seperti batuan, fosil, serta karakter bentang alam yang khas. Hal ini sekaligus memperkuat konsep sense of place atau identitas lokal yang menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Pada kesempatan tersebut, Stefanus juga memberikan apresiasi kepada Perkumpulan Pemandu Geowisata Indonesia (PGWI) Cabang Labuan Bajo yang telah menginisiasi pelatihan bagi para pemandu wisata. Menurutnya, keberadaan pemandu wisata sangat penting dalam memperkuat pengalaman wisatawan saat berkunjung ke sebuah destinasi.

“Membawa tamu ke sebuah daya tarik wisata tanpa narasi atau cerita tentu tidak maksimal. Pemandu memiliki peran penting sebagai pencerita agar potensi desa wisata kita memiliki nilai lebih di mata wisatawan,” katanya.

Pihaknya berharap melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku pariwisata, dan komunitas pemandu wisata, manfaat pariwisata dapat dirasakan secara lebih merata oleh masyarakat di seluruh wilayah Manggarai Barat, yang mencakup 12 kecamatan, 164 desa, dan 5 kelurahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....