Penetapan Kebun Entris Kakao di Nangapanda

  • 04 Mar 2026 09:12 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Dinas Pertanian Kabupaten Ende bersama tim penetapan kebun entris kakao dari Direktorat Jenderal Perkebunan melakukan identifikasi dan penetapan kebun di Desa Sanggarhorho, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Kegiatan ini melibatkan tim teknis Balai Besar Surabaya serta UPTD Persertifikatan Benih Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Identifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan kelayakan lahan sebagai kebun entris kakao yang akan menjadi sumber benih unggul bagi petani. Proses penetapan berlangsung di areal seluas 10 hektare yang telah disiapkan pemerintah daerah setempat.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende Gadir Dean melalui Kepala Bidang Perkebunan Fransiskus Saverius mengatakan lahan yang tersedia dinilai memenuhi syarat teknis dan administratif. Menurutnya, keberadaan kebun entris menjadi langkah strategis dalam mendukung peningkatan mutu dan produktivitas kakao di wilayah itu.

Fransiskus menjelaskan hingga kini pihaknya telah mengembangkan tiga klon kakao, yakni Sulawesi 1, Sulawesi 2, dan MCC 1. Namun, mayoritas pengembangan masih didominasi klon Sulawesi 1 dan MCC 1 karena dinilai adaptif dan produktif.

Ia mengakui tantangan utama di lapangan bukan pada budidaya, melainkan akses infrastruktur menuju sentra perkebunan. Kondisi jalan yang terbatas kerap menyulitkan distribusi hasil maupun mobilisasi sarana produksi.

Padahal, potensi hasil perkebunan masyarakat di Kecamatan Nangapanda tergolong menjanjikan dan terus berkembang. Komoditas kakao menjadi salah satu penopang ekonomi warga yang membutuhkan dukungan infrastruktur memadai.

Pemerintah desa setempat, lanjut Fransiskus, telah berupaya mendorong perbaikan akses jalan melalui berbagai usulan pembangunan. Harapan pun disampaikan agar ada perhatian serius dari pemerintah untuk membuka keterisolasian wilayah produksi.

Menurutnya, keberlanjutan program hilirisasi tanaman perkebunan, khususnya kakao, sangat bergantung pada konektivitas wilayah. Pembangunan jalan dan jembatan menuju lokasi potensi perkebunan dinilai menjadi kunci agar program peningkatan nilai tambah dapat berjalan optimal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....