Pancasila Sebagai Fondasi Keindonesiaan Hadapi Tantangan Globalisasi

  • 14 Feb 2026 15:45 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID,Ende - Di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa perubahan cepat di bidang teknologi, budaya, ekonomi hingga pola pikir masyarakat, Pancasila dinilai tetap relevan sebagai fondasi utama kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal itu disampaikan Dosen Fakultas Hukum Universitas Flores, Carolus Charles Bago, S.H., M.Sc, dalam dialog di RRI Ende, Kamis (12/02/2026 ), yang membahas tema “Pancasila sebagai Fondasi Keindonesiaan di Era Globalisasi”.

Menurutnya, Pancasila bukan sekadar dasar negara yang tertulis dalam konstitusi, melainkan pedoman hidup bangsa Indonesia dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman. “Indonesia ini berdiri di atas keragaman suku, agama, budaya dan bahasa. Tanpa fondasi yang kuat, bangunan besar bernama NKRI bisa goyah. Fondasi itu tidak lain adalah Pancasila,” ujarnya.

Charle mengutip pandangan sejumlah tokoh nasional yang menilai bangsa Indonesia sempat mengalami “amnesia” terhadap Pancasila pasca reformasi. Padahal, dalam konteks menjaga keutuhan bangsa, nilai-nilai Pancasila justru menjadi perekat utama. Di era digital yang serba terbuka, lanjutnya, globalisasi tidak sepenuhnya menjadi ancaman. Pengaruh luar bisa menjadi peluang selama masyarakat mampu memilah dan memfilter informasi yang diterima.

“Kita tidak bisa membendung globalisasi. Yang bisa kita lakukan adalah memperkuat ketahanan diri. Mana yang baik kita ambil, yang tidak baik kita tinggalkan,” katanya. Charles mencontohkan penggunaan teknologi informasi yang merupakan produk luar negeri.

Teknologi tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan pengetahuan dan memperkuat wawasan kebangsaan, termasuk melalui siaran dan diskusi publik. Namun demikian, ia juga menyoroti adanya krisis kepercayaan di tengah masyarakat, yang menurutnya menjadi indikator melemahnya pengamalan nilai Pancasila, khususnya kejujuran.

“Ketika di banyak tempat dipasang CCTV karena takut pencurian atau penipuan, itu menunjukkan ada persoalan kepercayaan. Padahal, mencegah kejahatan bukan hanya soal alat, tetapi soal kesadaran moral,” ujarnya.

Di dunia pendidikan, implementasi nilai Pancasila dinilai perlu dilakukan secara kontekstual. Tidak hanya melalui ceramah di ruang kelas, tetapi juga melalui kegiatan yang mendorong kepedulian sosial dan keterlibatan mahasiswa di lingkungan masyarakat.

Di Universitas Flores, kata Charles, mahasiswa diajak untuk mengenal langsung kondisi sosial di sekitar mereka agar tumbuh kecerdasan emosional dan rasa empati. “Internalisasi nilai Pancasila tidak selalu melalui hal besar.

Tegur sapa, saling menghormati, menghargai perbedaan, itu sudah bagian dari pengamalan Pancasila,” jelasnya. Ia menambahkan, peran kampus dan akademisi sangat penting dalam memperkuat nilai kebangsaan, namun pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab institusi pendidikan.

Dukungan keluarga, lingkungan, dan pergaulan juga berperan besar. Dengan tantangan globalisasi yang semakin kompleks, ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak kehilangan jati diri dan tetap menjadikan Pancasila sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.

“Pancasila jangan hanya dihafal, tetapi dipahami dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Di situlah kekuatan bangsa ini,” ucapnya.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....