Kasus Anak Bunuh Diri Soroti Kesehatan Mental
- 09 Feb 2026 13:26 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ngada - Kasus bunuh diri seorang anak sekolah dasar di Kabupaten Ngada mengguncang publik dan memunculkan perhatian serius terhadap kesehatan mental anak serta sistem pengasuhan dan pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Peristiwa tersebut menjadi perhatian luas setelah korban meninggalkan surat perpisahan yang berisi permintaan maaf dan perasaan menjadi beban bagi lingkungan sekitarnya.
Kasus ini dinilai mencerminkan kerentanan psikologis anak yang luput dari perhatian orang dewasa. Praktisi psikologi Jefrin Haryanto menjelaskan, bunuh diri pada anak tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan akumulasi tekanan psikologis dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, sekolah, dan komunitas sosial.
“Pemicu yang terlihat sering kali hanya ujung dari kondisi psikologis anak yang sudah rapuh,” kata Jefrin.
Ia menilai, tekanan akademik yang berorientasi pada nilai, minimnya dukungan emosional, serta perundungan yang kerap dianggap kenakalan biasa, berpotensi memperburuk kondisi mental anak. Anak usia sekolah dasar dinilai belum memiliki kemampuan mengelola emosi, kegagalan, dan tekanan sosial secara matang.
Menurutnya, tanda-tanda awal seperti perubahan perilaku, menarik diri, murung, atau perilaku agresif perlu segera direspons oleh orang tua dan guru agar tidak berkembang menjadi krisis psikologis yang lebih serius. Jefrin juga menekankan pentingnya peran sekolah sebagai ruang aman, tidak hanya untuk pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai tempat penguatan nilai empati, komunikasi, dan dukungan psikososial bagi anak.
Kasus ini diharapkan mendorong peningkatan kepedulian masyarakat serta penguatan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah daerah dalam membangun sistem perlindungan kesehatan mental anak secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....