Budaya Pesta Pora Dinilai Picu Kemiskinan di NTT
- 03 Feb 2026 18:24 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende — Budaya pesta pora dengan biaya besar dinilai menjadi salah satu faktor yang memperparah kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT). Praktik tersebut berdampak pada melemahnya ketahanan ekonomi keluarga karena pengeluaran tidak sebanding dengan kemampuan finansial.
Koordinator Zero Human Trafficking Network Indonesia, Romo Agus Duka SVD, mengatakan banyak keluarga menghabiskan dana besar untuk pesta adat, sipil, maupun keagamaan. Menurutnya, pesta kerap dilakukan demi gengsi dan pengakuan sosial, bukan kebutuhan yang berdampak langsung pada kesejahteraan.
Romo Agus menilai, berbagai jenis pesta tersebut tidak meningkatkan kondisi ekonomi keluarga. Sebaliknya, setelah pesta usai, keluarga sering kali terjerat utang yang berkepanjangan.
Ia mencontohkan, biaya pesta komuni pertama di NTT saat ini dapat mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Pengeluaran tersebut dinilai tidak sebanding dengan kemampuan ekonomi sebagian besar keluarga.
“Kemiskinan bukan terberi, tapi juga karena perilaku, perilaku pesta pora misalnya,” ujar Romo Agus saat diwawancarai RRI, Senin (2/2/2026).
Menurutnya, kemiskinan kerap dipandang sebagai takdir yang tidak bisa diubah. Padahal, kemiskinan juga berkaitan erat dengan pola perilaku sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat.
Romo Agus mengajak masyarakat untuk mulai membedakan kebutuhan pokok dan pencitraan sosial. Langkah ini dinilai penting agar siklus kemiskinan tidak terus berulang dalam keluarga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....