Tendambonggi Kelola Limbah Kopi Jadi Produk Unggulan Desa

  • 16 Sep 2025 08:47 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Pengelolaan limbah kulit kopi kini menjadi solusi baru dalam pengembangan ekonomi desa di Desa Tendambonggi, Kabupaten Flores Timur. Melalui program Pengabdian Masyarakat yang didukung Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), para petani kopi dibina untuk mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomis.

Program ini melibatkan tim akademisi dari Universitas Flores (Uniflor) dan Universitas Papua (Unipa) yang sejak tahun 2024 mendampingi petani dalam perbaikan budidaya dan manajemen kebun. Memasuki tahun 2025, fokus pendampingan diarahkan pada pengelolaan pasca panen dan pemanfaatan limbah kulit kopi yang sebelumnya tidak termanfaatkan secara optimal.

Dr. Sri Wahyuni, SP., M.Si., Ketua Tim Pengabdian dari Uniflor kepada RRI, Selasa, (16/9/2025) menjelaskan, setiap petani kopi di Tendambonggi dapat menghasilkan 1 hingga 2 ton limbah kulit kopi setiap musim panen. Selama ini limbah hanya dibiarkan menumpuk, menimbulkan bau menyengat dan mencemari lingkungan.

“Limbah kulit kopi yang dulunya dibuang begitu saja, kini kami olah menjadi pupuk kompos, teh cascara, dan cookies kulit kopi. Ini bukan hanya solusi lingkungan, tapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” ujar Dr. Sri Wahyuni.

Kompos yang dihasilkan mengandung unsur hara N, P, dan K serta mikroorganisme lokal seperti Trichoderma yang berfungsi melindungi tanaman dari penyakit tular tanah. Teh cascara diolah dari kulit kopi segar menggunakan oven agar higienis, dan memiliki cita rasa manis asam khas Tendambonggi.

Cookies kulit kopi dikembangkan dalam dua varian rasa, yaitu cokelat dan red velvet. Produk ini mulai dikenalkan sebagai oleh-oleh khas desa.

Meski demikian, tidak semua inovasi langsung diterima. Produk briket dari limbah kulit kopi masih belum diminati masyarakat karena proses pembuatannya yang cukup rumit. Namun, tiga produk utama lainnya telah menunjukkan potensi pasar yang menjanjikan.

“Berdasarkan perhitungan break even point, semua produk sudah menguntungkan. Kompos dijual Rp5.000 per kilogram, teh cascara Rp10.000 per kotak, dan cookies Rp35.000 per 250 gram,” ucap Dr. Sri Wahyuni.

Ia menambahkan, pencapaian ini mendukung visi pemerintah dalam mendorong desa memiliki satu produk unggulan berbasis potensi lokal. Tendambonggi dinilai telah berada di jalur yang tepat menuju desa mandiri dan berdaya saing.

“Ini bukan hanya soal produk, tapi membangun kesadaran bahwa limbah bisa jadi berkah jika dikelola dengan ilmu dan niat baik,” katanya optimis.

Dengan dukungan pemerintah, akademisi, dan partisipasi masyarakat, Desa Tendambonggi berpeluang menjadi sentra olahan kopi dan produk turunannya di wilayah Kabupaten Ende.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....