Pakaian Adat Suku Manggarai: Makna dan Perkembangannya

  • 12 Des 2024 22:10 WIB
  •  Ende

KBRN, Ende: Pakaian adat memiliki arti penting dalam kebudayaan dan tradisi suatu masyarakat. Di suku Manggarai, pakaian adat dikenal sebagai songke, yang dapat dikenakan oleh laki-laki maupun perempuan, dengan bentuk dan motif yang berbeda sesuai fungsinya.

Dalam Wawancara di Bincang Budaya Pro 1 RRI Ende, Senin (9/12/2024), Budayawan Manggarai Barat, Dr. Bernadus Barat Daya, S.H., M.H, menjelaskan, pakaian adat perempua tidak ada perbedaan besar antara pakaian adat perempuan dan laki-laki, tetapi terdapat aksesoris khas perempuan seperti balibelo (mahkota tradisional). Mahkota ini melambangkan kehormatan dan keindahan, sering digunakan pada acara pernikahan atau penyambutan tamu. Pakaian adat laki-laki dilengkapi dengan topi khas yang menjadi simbol kehormatan. Topi ini juga digunakan dalam upacara adat dan interaksi sosial, melambangkan penghormatan kepada lawan bicara.

Lanjut Bernadus, salah satu motif terkenal adalah mata manuk (mata ayam), yang mencerminkan filosofi persatuan dan hubungan dengan alam. Motif lain sering mencerminkan rumah adat atau simbol-simbol budaya yang memiliki nilai luhur.

Warna dasar songke biasanya hitam, melambangkan keteguhan dan kesederhanaan, dengan tambahan warna seperti kuning emas, merah, dan biru. Warna-warna ini memiliki makna masing-masing dan awalnya diperoleh dari bahan alami seperti kulit kayu”. ungkap Bernadus.

Sementara itu, kata Bernadus, dahulu, kain tenun dibuat dari benang yang diolah secara manual oleh ibu-ibu di kampung. Pewarnaan juga menggunakan bahan alami. Saat ini, bahan kimia dan benang pabrik mulai digunakan untuk efisiensi. Namun, tantangan seperti pelestarian keterampilan menenun, sulitnya prosedur hak paten motif, dan persaingan dengan produksi massal dari pabrik luar daerah menjadi ancaman bagi keberlangsungan budaya ini.

Bernadus menjelaskan, Balibelo/Mahkota, digunakan perempuan sebagai lambang harga diri dan keindahan dalam acara penting. Sedangkan topi, simbol wibawa dan penghormatan untuk laki-laki. Bahkan dalam keadaan tanpa topi, orang Manggarai akan menutup kepala dengan tangan sebagai tanda penghormatan.

Pelestarian budaya menenun memerlukan perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Diperlukan pelatihan keterampilan bagi generasi muda serta pendidikan muatan lokal untuk menjaga warisan ini. Pemerintah juga diharapkan mempermudah akses untuk mematenkan motif tradisional agar tidak diambil alih oleh pihak luar.

“Pakaian adat suku Manggarai bukan sekadar hasil kerajinan, tetapi juga simbol identitas, kehormatan, dan keberagaman budaya. Oleh karena itu, upaya kolektif diperlukan untuk memastikan bahwa warisan ini terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi”. tutup Bernadus.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....