Upacara Hebo Nebo Merun Nilun di Lembata: Tradisi Menghantar Arwah dengan Nilai Adat dan Budaya
- 30 Okt 2024 20:58 WIB
- Ende
KBRN, Ende: Upacara adat Hebo Nebo Merun Nilun merupakan salah satu ritual kematian unik yang masih dijaga oleh masyarakat Lembata, Nusa Tenggara Timur. Ritual ini memiliki beberapa tahapan penting yang menekankan penghormatan bagi arwah orang yang telah meninggal, serta erat dengan budaya lokal yang diwariskan turun-temurun.
Linus Beseng. Budayawan Lembata, kepada RRI, Senin (28/10/2024), menjelaskan, dalam pelaksanaan ritual ini, keluarga yang berduka menjalani periode berpuasa selama empat hari. Selama masa tersebut, anggota keluarga yang berduka tidak diperbolehkan mandi, dan aktivitas makan dibatasi. Pada hari keempat, prosesi ritual berlanjut dengan tahap keramas rambut dan cuci muka yang melibatkan anggota keluarga besar dan perwakilan suku. Keluarga membawa kelapa merah, periuk tanah, sabun, dan bahan lain untuk keperluan upacara keramas.
Ritual ini juga melibatkan benang putih yang dibuat dari kapas asli. Benang putih ditempatkan di sekitar kepala jenazah sebagai simbol penunjuk jalan bagi arwah menuju "Kampung Baru”, dalam bahasa setempat Kawokot," atau alam tempat roh akan bersemayam. Menurut kepercayaan masyarakat Lembata, tanpa upacara penuntun ini, arwah dikhawatirkan tidak akan bisa mencapai tempat peristirahatannya dengan sempurna.
Lanjut Linus, dalam upacara ini, kehadiran kerabat laki-laki dianggap sangat penting. Tanpa mereka, jenazah tidak dapat dikebumikan meskipun prosesi keagamaan telah dilakukan. Hal ini menunjukkan besarnya peran keluarga dalam menghormati arwah, serta memperkuat ikatan antara keluarga yang hidup dan yang telah meninggal.
Upacara ditutup dengan acara makan bersama yang melibatkan seluruh keluarga besar. Pada momen ini, masa berpuasa berakhir, dan semua anggota keluarga diizinkan untuk makan dan merayakan bersama.
Kata Linus, Ritual Hebo Nebo Merun Nilun, menyampaikan pesan mendalam bagi masyarakat Lembata, terutama generasi muda, agar tidak melupakan budaya leluhur. “Agama boleh datang, tetapi budaya tetap harus kita pertahankan. Ini adalah jati diri kita. Ritual ini menjadi warisan yang mengingatkan masyarakat akan pentingnya menjaga tradisi dalam setiap fase kehidupan, dari kelahiran hingga kematian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....