Mala, Doa Kecil di Sunyi Ramadan
- 06 Mar 2026 13:49 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende - Ramadan identik dengan kebersamaan keluarga, meja makan yang hangat, serta momen sahur dan berbuka yang dijalani bersama orang-orang tercinta. Namun suasana itu tidak sepenuhnya dirasakan oleh seorang anak perempuan bernama Sri Kumala Sari, yang akrab disapa Mala, di RT 06 RW 03 Kelurahan Paupanda, Kabupaten Ende.
Di usianya yang baru sekitar 12 tahun, Mala menjalani hari-hari hanya bersama ibunya, Nurhayati Hamid (50), yang telah lama menderita stroke. Rumah sederhana yang mereka tempati menjadi tempat keduanya bertahan hidup dengan segala keterbatasan, namun tetap menyimpan harapan.
Penyakit stroke yang dialami Nurhayati bermula ketika ia sedang mengandung Mala. Saat itu usia kandungannya telah memasuki tujuh bulan.
“Waktu itu selesai salat magrib saya tiba-tiba tidak bisa bangun. Awalnya yang bisa bergerak hanya kepala,” ujar Nurhayati mengenang.
Sejak saat itu sebagian tubuhnya tidak lagi berfungsi normal. Meski demikian, kehamilan tetap berjalan hingga akhirnya Mala lahir dengan selamat di rumah sakit.
Cobaan hidup mereka bertambah ketika Mala masih berusia sekitar dua tahun. Ayahnya pergi meninggalkan mereka tanpa kabar. Sejak saat itu, hanya Mala dan ibunya yang saling menguatkan di rumah kecil mereka.
Di tengah keterbatasan tersebut, Mala tetap bersekolah seperti anak-anak lainnya. Ia tercatat sebagai siswi di SDI Paupanda 3. Namun tidak jarang ia harus berangkat ke sekolah tanpa sarapan atau tanpa uang jajan.
Kepala SDI Paupanda 3, Nurhayati Syahrir Noning, mengisahkan bahwa pada awalnya Mala menjalani masa sekolah seperti siswa lainnya. Namun ketika memasuki kelas tiga, Mala mulai menyadari perbedaan dengan teman-temannya.
“Awalnya Mala sekolah seperti anak-anak lainnya sejak kelas satu sampai kelas dua tanpa kendala berarti. Namun di kelas 3, ia mulai melihat teman-temannya punya uang jajan, sementara dia tidak,” katanya.
Kondisi ekonomi keluarga bahkan sempat membuat ibu Mala mempertimbangkan untuk menghentikan pendidikan anaknya. Mendengar hal tersebut, para guru di sekolah tidak tega melihat semangat belajar Mala harus berhenti. Mereka kemudian sepakat untuk membantu agar Mala tetap bisa melanjutkan pendidikan.
“Mamanya pernah mengatakan biar Mala cukup sekolah sampai kelas tiga saja, karena mereka hidup hanya berdua dan tidak mampu membiayai lagi. Kami guru-guru sepakat membantu. Ada yang memberikan uang jajan, ada juga yang membantu perlengkapan sekolahnya,” ujar Nurhayati.
Menurutnya, meskipun hidup dalam keterbatasan, Mala dikenal sebagai anak yang ceria dan rajin belajar. Prestasi Mala di sekolah terbilang bagus.
“Walaupun kondisi keluarganya seperti itu, dia tetap gembira dan rajin ke sekolah. Prestasinya juga baik seperti teman-temannya,” katanya.
Kisah perjuangan Mala juga sampai ke telinga relawan Rumah Baca Mustika. Salah satu relawannya, Fani, yang juga merupakan guru di sekolah tersebut, mengatakan bahwa nama Mala direkomendasikan oleh para guru untuk mendapat perhatian.
“Kami biasanya mencari anak-anak yatim dan dhuafa untuk dibantu, terutama saat Ramadan. Nama Mala direkomendasikan oleh guru-guru di sekolah,” ujarnya.
Ketika pertama kali mengunjungi rumah Mala pada tahun 2023, Fani melihat kondisi yang membuatnya terenyuh. Sejak saat itu, Mala mulai mendapat perhatian dan pendampingan dari relawan Rumah Baca Mustika melalui berbagai kegiatan sosial dan bantuan kebutuhan sekolah.
“Waktu pertama datang, Mala tidak pakai sandal. Kami langsung ajak dia belanja baju dan sandal,” katanya.
Menurut Fani, Mala merupakan anak yang pendiam dan pemalu. Meski begitu, ia memiliki semangat belajar yang tinggi.
“Dia pemalu, tapi rajin belajar dan prestasinya cukup baik,” ujarnya.
Meski mendapat perhatian dari guru dan relawan, kehidupan Mala dan ibunya tetap berjalan sederhana. Pada bulan Ramadan, sahur mereka kadang hanya dengan bubur, sementara saat berbuka puasa pun sering hanya dengan nasi dan sambal.
Di tengah keterbatasan tersebut, mereka tetap percaya bahwa pertolongan Tuhan selalu datang pada waktu yang tepat. Nurhayati, sang ibu mengisahkan suatu malam ketika ia dan Mala sedang lapar dan hanya bisa berdoa.
“Kadang kami tidur dengan perut lapar, tidak ada beras. Tiba-tiba ada orang datang membawa beras sepuluh kilo. Kami menangis karena merasa Allah mendengar doa kami,” kata Nurhayati sambil menangis.
Bagi mereka, peristiwa itu terasa seperti jawaban atas doa yang dipanjatkan. Doa yang lahir di tengah kesulitan dan keterbatasan hidup.
Di rumah kecil itu pula, Ramadan dijalani dengan ibadah sederhana. Karena kondisi kesehatannya, Nurhayati melaksanakan salat dengan duduk, sementara Mala berdiri di belakangnya sebagai makmum.
“Saya yang imam, Mala di belakang. Kadang kami salat sambil menangis,” ujarnya.
Ketika ditanya tentang harapannya, Mala hanya tersenyum kecil. Ia mengaku kadang ingin seperti teman-temannya yang memiliki uang jajan atau pakaian bagus.
Bagi mereka, peristiwa itu terasa seperti jawaban atas doa yang dipanjatkan. Doa yang lahir di tengah kesulitan dan keterbatasan hidup.
Namun setiap kali melihat ibunya, keinginan itu perlahan berubah. Keinginan itu berganti menjadi doa yang ia panjatkan setiap hari.
“Saya selalu berdoa supaya mama bisa sembuh,” katanya pelan.
Di usianya yang masih sangat muda, Mala mungkin tidak memiliki banyak hal. Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih besar: harapan. Harapan yang ia panjatkan dalam setiap doa kecilnya, terutama di malam-malam Ramadan yang sunyi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....