Syukur Berbuka Jadi Penangkal Budaya Konsumtif Ramadan
- 05 Mar 2026 03:55 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Ende – Penyuluh Agama Islam Kementerian Agama Kabupaten Ende, Syafrudin Muthalib, mengingatkan masyarakat agar menjadikan momen berbuka puasa sebagai bentuk syukur, bukan ajang konsumsi berlebihan selama Ramadan.
Pesan tersebut disampaikan Syafrudin dalam Dialog Ramadan RRI Ende, Rabu (4/3/2026). Ia menilai budaya berbuka secara berlebihan dapat mengurangi nilai spiritual ibadah puasa.
Menurutnya, makna syukur dalam berbuka puasa tidak cukup hanya diucapkan secara lisan, tetapi harus tercermin dalam sikap hidup yang sederhana dan terkontrol.
“Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi kesadaran bahwa nikmat berpuasa berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ujarnya.
Ia menjelaskan tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah.
Karena itu, fenomena berbuka dengan hidangan berlebihan yang berujung mubazir dinilai bertentangan dengan semangat Ramadan yang menekankan kesederhanaan dan pengendalian diri.
Syafrudin juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang memamerkan hidangan berbuka di media sosial. Menurutnya, sikap tersebut berpotensi mengarah pada riya jika tidak disertai niat yang benar.
“Jika ibadah diisi dengan pamer dan berlebih-lebihan, maka nilainya bisa berkurang,” katanya.
Ia mencontohkan teladan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang berbuka dengan kurma dan air. Kesederhanaan tersebut menunjukkan bahwa nilai berbuka tidak terletak pada banyaknya makanan, melainkan pada keikhlasan dan rasa syukur.
Syafrudin berharap Ramadan dapat menjadi madrasah untuk melatih pengendalian diri sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial terhadap sesama.
“Jadikan momentum berbuka sebagai ajang bersyukur dan berbagi kepada sesama,” ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....