Merajut Makna Ramadhan di Tanah Rantau Rindu Kampung Halaman Jadi Penguat Iman

  • 26 Feb 2026 15:12 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Bulan suci Ramadhan selalu menghadirkan suasana berbeda bagi setiap Muslim. Namun, bagi para perantau, Ramadhan tak hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang merajut makna kesabaran, kemandirian, dan kerinduan akan kampung halaman.

Hal itu disampaikan Rahma Suci Dewi, seorang perantau yang berprofesi sebagai jurnalis, saat berbincang dalam Program Kurma (Kisah Unik Ramadhan) di Pro 1 RRI Ende, Kamis, 26 Februari 2026. Rahma mengaku, menjalani Ramadhan jauh dari keluarga bukanlah hal yang mudah.

Suasana sahur dan berbuka yang biasanya ramai bersama orang tua dan saudara, kini harus dijalani secara mandiri. “Kalau di rumah, sahur itu selalu dibangunkan ibu ada suara piring, aroma masakan dari dapur. Di tanah rantau, semuanya harus disiapkan sendiri. Di situlah kita belajar mandiri dan lebih menghargai momen kebersamaan,” ujarnya.

Sebagai seorang jurnalis, Rahma juga tetap menjalankan tugas jurnalistiknya selama bulan puasa. Ia mengatakan, Ramadhan justru menjadi momentum untuk menghadirkan informasi yang lebih menyejukkan dan inspiratif bagi masyarakat.

“Sebagai jurnalis, kita bukan hanya menyampaikan berita, tetapi juga membawa pesan. Di bulan Ramadhan, saya merasa terpanggil untuk menyajikan konten yang memberi harapan, semangat berbagi, dan nilai-nilai kebaikan,” katanya.

Menurut Rahma, hidup di perantauan mengajarkannya untuk memperluas makna keluarga. Teman-teman dan rekan kerja menjadi tempat berbagi cerita, termasuk saat berbuka puasa bersama.

“Di rantau, kita belajar bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, tetapi tentang kebersamaan. Buka puasa sederhana bersama teman bisa terasa sangat hangat,” ujarnya menambahkan.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga konsistensi ibadah di tengah kesibukan kerja. Tantangan liputan, deadline berita, dan mobilitas tinggi tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi kualitas ibadah.

“Justru di situlah ujian Ramadhan. Bagaimana kita tetap menjaga shalat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan menjaga sikap, meskipun aktivitas padat,” kata Rahma. Di akhir perbincangan, Rahma berpesan kepada sesama perantau agar menjadikan Ramadhan sebagai momen refleksi diri dan penguatan spiritual.

“Jangan jadikan jarak sebagai alasan untuk bersedih. Jadikan rindu itu sebagai doa. Karena sejatinya, di mana pun kita berada, Ramadhan tetap membawa kesempatan yang sama untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ucapnya.

Melalui kisah Rahma Suci Dewi, Ramadhan di tanah rantau bukan lagi sekadar cerita tentang jarak, melainkan perjalanan menemukan makna baru tentang keluarga, tanggung jawab, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....