FIFA Gunakan Rumput Hibrida Berteknologi Tinggi di Piala Dunia 2026

  • 29 Jun 2026 11:50 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Ende – Piala Dunia 2026 tidak hanya menghadirkan inovasi dari sisi format pertandingan, tetapi juga dalam teknologi lapangan. FIFA menggunakan rumput hibrida hasil riset selama delapan tahun untuk memastikan kualitas lapangan tetap optimal di seluruh stadion penyelenggara.

Pengembangan teknologi tersebut dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Tennessee dan Michigan State di Amerika Serikat. Riset difokuskan untuk menciptakan permukaan lapangan yang kuat, rata, nyaman digunakan, serta mampu bertahan menghadapi padatnya jadwal pertandingan.

Persiapan ini menjadi tantangan tersendiri karena delapan dari 16 stadion tuan rumah sebelumnya menggunakan rumput sintetis sebagai kandang klub National Football League (NFL). Sebagian besar stadion tersebut berada di Amerika Serikat, sementara satu stadion lainnya berada di Vancouver, Kanada.

FIFA menetapkan seluruh stadion pertandingan harus menggunakan mayoritas rumput alami dengan karakteristik permainan yang seragam. Standar tersebut diterapkan agar seluruh peserta bertanding dalam kondisi lapangan yang setara.

Di wilayah beriklim panas seperti Monterrey, Meksiko, digunakan rumput jenis Bermuda yang memiliki daya tahan tinggi terhadap suhu panas. Sementara stadion yang berada di daerah beriklim sejuk atau berada di dalam ruangan menggunakan kombinasi perennial ryegrass (rumput gandum abadi) dan Kentucky bluegrass.

Rumput yang digunakan selama turnamen dipasok dari 10 perkebunan khusus yang berada di Kanada, Amerika Serikat, dan Meksiko. Setelah ditanam, rumput diperkuat menggunakan serat sintetis sehingga mampu menahan intensitas pertandingan tingkat tinggi tanpa mengurangi kualitas permainan.

Salah satu penerapan teknologi tersebut dilakukan di Stadion Dallas, markas klub NFL Dallas Cowboys, yang menjadi stadion dengan jumlah pertandingan terbanyak pada Piala Dunia 2026, yakni sembilan laga. Karena paparan sinar matahari terbatas akibat atap stadion, pengelola memasang lampu pertumbuhan khusus yang digantung dari langit-langit untuk menjaga kondisi rumput tetap sehat.

Kepala Infrastruktur Lapangan Piala Dunia, Ewen Hodge, mengatakan penggunaan sistem lampu gantung tersebut menjadi inovasi baru dalam pengelolaan lapangan stadion. Teknologi itu dinilai lebih efisien karena tidak mengganggu aktivitas di permukaan lapangan.

Sementara itu, Profesor Ilmu Rumput Universitas Tennessee, John Sorochan, menjelaskan pengembangan teknologi rumput Piala Dunia 2026 merupakan hasil evaluasi dari penyelenggaraan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat. Saat itu, sejumlah lapangan mengalami penurunan kualitas karena belum didukung teknologi pencahayaan dan sistem penguatan rumput seperti saat ini.

Dengan dukungan teknologi tersebut, FIFA berharap seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 berlangsung di atas lapangan yang aman, berkualitas, dan mampu mendukung performa terbaik para pemain.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....