Psikolog Polda Jateng Dampingi Korban Gempa Manggarai Barat, Fokus Kurangi Cemas

  • 27 Agt 2026 14:23 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai Barat - Tim trauma healing dari Polda Jawa Tengah terus mendampingi warga terdampak gempa bumi di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pendampingan dilakukan untuk membantu masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan, mengurangi kecemasan serta trauma pascabencana.

IPDA Putri Agustina, Psikolog Kepolisian dari Polda Jawa Tengah yang memimpin tim trauma healing, mengatakan timnya telah berada di Manggarai Barat selama sembilan hari. Tim yang terdiri dari tiga personel tersebut ditugaskan oleh Mabes Polri untuk memberikan pendampingan psikologis kepada warga terdampak gempa.

Menurutnya, sebagian warga Manggarai Barat masih mengalami rasa takut untuk kembali beraktivitas di dalam bangunan, meski dampak kerusakan di wilayah tersebut tidak terlalu berat. Kekhawatiran terutama muncul akibat masih adanya gempa susulan.

“Kalau siang bisa aktivitas biasa, tetapi ketika malam mereka memilih istirahat di tenda karena takut kalau masih ada gempa susulan,” kata IPDA Putri saat ditemui di tenda pengusung Rusun Polres Manggarai Barat, Kamis 27 Agustus 2026.

Untuk anak-anak, tim trauma healing menggunakan metode play therapy dan art therapy, seperti bermain bersama, menggambar, mewarnai, serta aktivitas yang melibatkan gerakan atau motorik. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk pengalihan agar anak-anak tidak jenuh sekaligus membantu mengurangi kecemasan.

Sementara bagi orang dewasa, khususnya ibu-ibu, pendampingan dilakukan melalui teknik pengaturan pernapasan dan tapping untuk membantu menurunkan tingkat kecemasan. IPDA Putri menegaskan, trauma akibat bencana tidak selalu dapat dihilangkan sepenuhnya, tetapi dapat dikurangi melalui pendampingan dan terapi yang tepat.

“Kalau trauma itu dihilangkan tidak bisa, tapi bisa dikurangi dengan terapi. Untuk anak-anak dengan pengalihan bisa, sementara untuk orang tua atau dewasa kita biasa menggunakan teknik tapping dan mengatur pernapasan,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan, tim juga memberikan konseling, dukungan psikososial, serta psychological first aid (PFA) kepada korban yang membutuhkan. Salah satunya dilakukan terhadap warga Manggarai yang dirujuk ke Rumah Sakit Komodo di Labuan Bajo.

Ia juga menceritakan pengalaman menangani korban dari wilayah Manggarai Timur yang mengalami dampak berat akibat gempa. Seorang ibu bersama anaknya tertimpa bangunan rumah setelah terbangun karena anaknya menangis meminta susu saat dini hari.

“Kalau anaknya mungkin tidak menangis, mungkin bisa lebih parah. Itu menjadi salah satu pengalaman yang cukup berat bagi kami saat memberikan pendampingan,” katanya.

Kendati demikian, IPDA Putri menyebut kondisi warga terdampak di Manggarai Barat secara umum relatif baik. Trauma yang masih dirasakan lebih banyak berupa kekhawatiran untuk berada di dalam bangunan karena takut terjadi gempa susulan.

Dirinya pun mengimbau masyarakat tetap waspada, tetapi tidak panik apabila kembali terjadi gempa. Menurutnya, kepanikan justru dapat meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan ketika seseorang berusaha menyelamatkan diri.

“Boleh waspada, memang harus waspada, tetapi tidak boleh panik. Karena kalau tidak tenang, kita bisa salah turun tangga dan justru menimbulkan risiko yang lebih berat,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....