Kunjungi Manggarai, Mendikti Gratiskan UKT Satu Semester bagi 5.000 Mahasiswa NTT

  • 26 Agt 2026 13:39 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Manggarai - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) RI, Brian Yuliarto mengunjungi Kabupaten Manggarai untuk meninjau penanganan korban gempa, khususnya mahasiswa dan dosen, Rabu 26 Agustus 2026. Mendikti tiba di Bandara Frans Sales Lega Ruteng sekitar pukul 11.30 WITA menggunakan pesawat TNI Angkatan Udara.

Ia disambut Bupati Manggarai, Rektor UNIKA St. Paulus Ruteng serta jajaran pemerintah daerah. Selanjutnya, bersama rombongan, termasuk 15 mahasiswa yang terdiri dari lima mahasiswa UGM, lima mahasiswa Unair, dan lima mahasiswa ITB, Menteri Brian mengunjungi Posko Lapangan UNIKA St. Paulus Ruteng untuk meninjau pelayanan bagi penyintas gempa.

Kunjungan tersebut juga untuk melakukan pemetaan awal dan konsolidasi persiapan Program Mahasiswa Berdampak melalui Aksara Mahasiswa, serta penyerahan bantuan bagi 5.000 mahasiswa NTT dan bantuan kemanusiaan untuk korban gempa di Flores.

Dalam laporannya, Bupati Manggarai menyampaikan bahwa hingga saat ini terdapat 45 korban meninggal dunia akibat gempa. Sebanyak 22 orang meninggal pada hari saat gempa, sedangkan 23 lainnya meninggal dalam beberapa hari setelah gempa.

Bupati menyebut sebagian besar korban yang meninggal setelah hari kejadian disebabkan syok dan keterbatasan fasilitas perawatan kesehatan serta masih banyak pasien yang menjalani perawatan secara mandiri rumah-rumah warga karena takut gempa susulan.

"Begitu banyak pasien yang masih dirawat di rumah-rumah masyarakat. Masyarakat keberatan anggota keluarganya yang patah kaki, patah tangan, patah tulang, dan lain-lain itu dirawat di rumah sakit karena takut dengan gempa susulan. Sehingga memang ada banyak 23 meninggal pada hari-hari selanjutnya," ungkap Bupati.

Selanjutnya, Bupati membeberkan dua alasan yang menyebabkan pelayanan kesehatan belum optimal. Pertama, fasilitas kesehatan turut mengalami kerusakan, termasuk rumah sakit, sehingga pasien terpaksa dirawat di area terbuka seperti lapangan, taman, dan jalan di sekitar rumah sakit.

Selain itu, sebanyak 25 puskesmas di Kabupaten Manggarai seluruhnya terdampak gempa, sehingga pelayanan kesehatan dilakukan secara darurat menggunakan tenda.

"Semua pasien harus dirawat di lapangan, di taman, dan di jalanan di luar rumah sakit. Dari 25 Puskesmas atau seluruh Puskesmas terdampak, hari ini pelayanan di Puskesmas dilakukan di bawah kemah-kemah yang didirikan secara darurat," ujarnya.

Bupati juga melaporkan sekitar 50 ribu warga masih berada di pengungsian, baik di posko terpusat maupun pengungsian mandiri. Dari jumlah tersebut, sekitar 7.600 orang merupakan kelompok rentan yang terdiri atas ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita dan penyandang disabilitas.

Ia mengakui pemerintah daerah masih menghadapi keterbatasan dalam menangani kelompok rentan tersebut.

"Kami punya kemampuan terbatas, yang terbatas itu kami tahu akan ditambahkan oleh Tuhan melalui teman-teman sekalian. Ini yang terus terang sebagai pemerintah, kami gagap menangani kelompok rentan ini," tutur Bupati.

Bupati turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang telah mendampingi pemerintah daerah dalam pendataan kerugian akibat gempa, terutama kerusakan rumah milik masyarakat.

Sementara itu, perwakilan BNPB melaporkan bahwa pihaknya bersama pemerintah daerah memusatkan distribusi logistik di dua titik, yakni Ruteng dan Reo. BNPB juga mendukung pengiriman bantuan melalui jalur udara ke wilayah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Selain itu, BNPB turut mendukung operasional rumah sakit lapangan di Ruteng bersama Kementerian Kesehatan dan PMI. Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap untuk memastikan kebutuhan logistik di sejumlah wilayah tetap terpenuhi.

BNPB menilai penanganan bencana di Manggarai berjalan baik berkat kolaborasi pemerintah daerah, relawan, dan berbagai pihak.

Dalam arahannya, Mendiktisaintek Brian Yuliarto menyampaikan belasungkawa dan keprihatinan mendalam atas musibah gempa yang menimpa masyarakat NTT.

Menurutnya, kehadiran berbagai pihak sangatlah penting untuk memberikan dukungan psikologis dan moral kepada masyarakat terdampak, sekaligus mengambil hikmah dari bencana untuk bangkit dan memperbaiki diri.

Mendikti menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Kemendiktisaintek, LLDikti, serta jajaran perguruan tinggi di Nusa Tenggara Timur khususnya UNIKA Ruteng yang sigap dalam menyediakan fasilitas dan mengoordinasikan bantuan.

Ia juga menginstruksikan kepada seluruh civitas akademika, dosen, serta mahasiswa relawan yang datang ke lokasi agar fokus membantu tanpa membebani pemerintah daerah maupun kampus setempat.

"Saya titip pesan kepada seluruh civitas akademika, dosen, mahasiswa yang akan datang ke sini, mohon kedatangan kita justru jangan memberatkan pihak tuan rumah, pihak Bupati, ataupun kampus-kampus kita yang ada di sini," katanya.

Ia juga mengimbau agar kedatangan tim relawan dilakukan secara mandiri tanpa memerlukan penyambutan maupun fasilitas khusus. Menurutnya, kehadiran para relawan bukan untuk bertamu, melainkan untuk menyatakan keprihatinan, memberikan dukungan, dan membantu masyarakat terdampak semaksimal mungkin.

"Kehadiran kita di sini bukan untuk bertamu Bapak. Tetapi justru memang untuk menyatakan keprihatinan, menyatakan dukungan, dan sebisa mungkin kita akan semaksimal mungkin kita upayakan untuk membantu," ucap Mendikti.

Sebagai dukungan bagi mahasiswa terdampak gempa, Kemendiktisaintek menyiapkan pembebasan UKT selama satu semester untuk sekitar 5.000 mahasiswa. Kebijakan tersebut dapat diperpanjang satu semester berikutnya sesuai kondisi di lapangan.

"Nanti kita akan lihat kalau memang kebutuhannya masih diperlukan. Kita juga akan menambah satu semester lagi, Bapak Bupati. Tadi sementara ini 5.000 sesuai data yang masuk kepada kami," katanya.

Ia menjelaskan, kementerian akan berkoordinasi dengan perguruan tinggi untuk mendata mahasiswa asal daerah terdampak yang sedang menempuh pendidikan di luar NTT agar memperoleh bantuan serupa. Sementara, untuk memastikan bantuan tepat sasaran, Mendikti meminta agar tim di lapangan memvalidasi data kebutuhan penyintas secara terpadu bersama BNPB dan pemerintah daerah, dengan mengutamakan kebutuhan riil serta prioritas seperti tenda dan air bersih.

Di akhir arahannya, Mendikti berpesan kepada seluruh relawan dan mahasiswa untuk senantiasa menjaga empati, termasuk dalam penggunaan media sosial, agar tidak melukai perasaan warga yang sedang tertimpa musibah. Ia mengingatkan bahwa ikhtiar pemulihan ini harus dilandasi niat tulus untuk membantu secara efektif dan efisien guna mempercepat proses rehabilitasi pascabencana.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....