Rujukan Pasien Butuh 5–6 Jam, Dokter Ungkap Sulitnya Akses Kesehatan di Dampek
- 18 Agt 2026 07:41 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Timur - Akses pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi tantangan geografis. Sebelum gempa terjadi, masyarakat yang membutuhkan rujukan ke rumah sakit kabupaten harus menempuh perjalanan sekitar lima hingga enam jam.
Hal tersebut disampaikan Dokter Umum Puskesmas Dampek, Dokter Melinda Bella (28), saat berada di Posko Kampung Damer, Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Leda Utara, Manggarai Timur.
Menurut dr. Melinda, kondisi geografis wilayah tersebut membuat pelayanan kesehatan dan proses rujukan pasien menjadi tidak mudah. Situasi semakin berat ketika gempa bumi menyebabkan fasilitas kesehatan dan sejumlah tenaga kesehatan ikut terdampak.
“Untuk rujukan itu harus sekitar lima sampai enam jam ke RSUD kabupaten kami,” ujar Melinda saat di temui RRI di Posko, Senin 17 Agustus 2026.
Selain itu. dr Melinda juga mengatakan, wilayah pelayanan Puskesmas Dampek mencakup sekitar 17 ribu penduduk yang tersebar di delapan desa. Jumlah penduduk yang cukup besar tersebut selama ini dilayani oleh satu dokter.
Dirinya juga mengaku, kondisi tersebut membuat dirinya telah menghadapi beban pelayanan yang cukup berat bahkan sebelum bencana gempa terjadi.
“Misalnya sebelum gempa, saya selalu menangani pasien di sini 17 ribu penduduk. Dan itu terlalu banyak. Hari-harinya saya selalu 24 jam,” katanya.
Kondisi darurat setelah gempa semakin memperberat pelayanan. Saat gempa terjadi dan peringatan tsunami dikeluarkan, warga bersama tenaga kesehatan menyelamatkan diri ke wilayah yang lebih tinggi. Setelah peringatan tsunami dicabut, pelayanan kemudian dilakukan di posko darurat dengan fasilitas seadanya.
Ia juga menyebut, lebih dari 200 pasien sempat berada di lokasi tersebut. Sebagian mengalami luka berat akibat tertimpa reruntuhan, termasuk patah tulang dan gangguan pernapasan.
“Pasien-pasien yang berdatangan sangat banyak dan lukanya itu sangat-sangat parah. Pada saat itu obat-obatan pun tidak bisa maksimal diberikan,” ungkpnya.
Di tengah kondisi tersebut, Puskesmas Dampek juga mengalami kerusakan akibat gempa. Persediaan obat terbatas, sementara sejumlah perawat dan bidan turut terdampak bersama keluarga mereka. Akibatnya, pelayanan di posko harus dilakukan dengan tenaga dan fasilitas yang tersedia.
Lebih lanjut, dirinya menyoroti keterbatasan tenaga dokter di wilayah tersebut. Ia mengatakan, berdasarkan informasi yang diterimanya dari dokter sebelumnya, wilayah itu sempat tidak memiliki dokter selama sekitar delapan tahun sebelum akhirnya mendapatkan tenaga dokter melalui program Nusantara Sehat.
“Setelah delapan tahun ada dokter NS. Nah, habis dokter NS itu, diganti ke saya. Jadi sangat dibutuhkan tenaga dokter di sini,” katanya.
Selain persoalan tenaga medis, dr. Melinda menyebut masyarakat di wilayah tersebut juga membutuhkan dukungan terhadap berbagai persoalan kesehatan, mulai dari penyakit tidak menular, stroke, kehamilan berisiko tinggi, hingga penyakit yang banyak menyerang anak-anak seperti diare, DBD dan anemia.
Menurutnya, kondisi geografis dan jauhnya akses rujukan membuat penambahan tenaga dokter menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat di wilayah tersebut, terlebih dalam situasi pascabencana.
“Memang sangat dibutuhkan untuk tenaga dokter di sini. Dan terkait kategori wilayah, ini menurut saya bukan wilayah desa, karena untuk akses rujukan ke mana-mana juga sulit,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....