Gempa Flores, BMKG Terus Memantau Pergerakan Sesar Secara Real-time

  • 16 Agt 2026 16:38 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi BMKG terus memantau pergerakan sesar secara real-time aktivitas gempa susulan di Pulau Flores. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan berdasarkan histori dan karakteristik wilayah tersebut, proses stabilisasi sesar membutuhkan interval waktu tertentu sebelum aktivitas seismik benar-benar kembali normal.

“BMKG mengestimasi proses peluruhan alami memerlukan waktu berkisar antara 2 hingga 3 minggu, sebagaimana pola rekaman gempa bumi merusak di Maluku Utara sebelumnya,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana Gempa Bumi Provinsi NTT di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu 15 Agustus 2026 siang.

Sebelumnya, BMKG mengonfirmasi pemutakhiran data gempa bumi tektonik dangkal tersebut menjadi M7,7 dengan kedalaman 15 km. Sistem pemantauan gempa BMKG merespons kejadian secara cepat dengan mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya dalam waktu 2 menit 16 detik pasca gempa utama.

Petugas pemantau kemudian memutakhirkan peringatan dini tsunami setelah parameter gempa stabil dan presisi 10 menit setelahnya. Guncangan gempa tersebut sempat memicu gelombang tsunami yang menerjang beberapa kawasan pesisir.

BMKG menguji sistem running model multi-skenario dan membagi status ancaman ke dalam kategori ‘Siaga’ (potensi tinggi 0,5 meter hingga 3 meter) serta ‘Waspada’ (ketinggian di bawah 0,5 meter). Jaringan observasi muka air laut (tide gauge) mencatat gelombang tsunami tiba di Reo Manggarai dan Manggarai Timur dengan ketinggian puncak mencapai 1,61 meter, Maurole Ende setinggi 0,94 meter, serta Bulukumba dan Sape Bima melampaui 0,5 meter.

BMKG resmi mengakhiri seluruh Peringatan Dini Tsunami pada pukul 07.30 WIB setelah pemantauan muka laut mengonfirmasi kondisi air laut telah aman kembali. Faisal menjelaskan gempa bumi ini tergolong jenis gempa bumi dangkal yang timbul akibat aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores Back Arc Thrust).

Secara histori, struktur Flores Back Arc Thrust menyimpan rekam jejak gempa merusak yang panjang, termasuk gempa M7,8 pada kedalaman 28 km yang melanda kawasan tersebut pada tahun 1992. Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Mbay serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....