Prosesi Maria Assumpta Nusantara Tampilkan Harmoni Multi-Etnis di Labuan Bajo
- 14 Agt 2026 20:39 WIB
- Ende
RRI.CO.ID, Manggarai Barat – Ribuan umat Katolik bersama masyarakat lintas etnis dan agama mengikuti Prosesi Maria Assumpta Nusantara di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat 14 Agustus 2026. Prosesi ini menjadi salah satu puncak rangkaian Festival Golo Koe 2026, sekaligus ruang perjumpaan masyarakat dalam semangat persaudaraan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketua Umum Festival Golo Koe 2026, RD Yohanes Fakundo Selman, mengatakan prosesi tersebut merupakan salah satu puncak rangkaian Festival Golo Koe yang telah digelar sejak Juni 2026. Puncak pekan festival berlangsung mulai 10 Agustus dan dilanjutkan dengan prosesi laut serta darat menuju Gua Maria Bukit Golo Koe.
“Prosesi sore hari ini adalah salah satu puncak dari rangkaian Festival Golo Koe. Hari ini adalah prosesi arca Bunda Maria, prosesi laut dan prosesi darat yang sekarang sedang berlangsung menuju ke Gua Golo Koe,” ujar RD Yohanes di sela kegiatan.

Dirinya juga menjelaskan, prosesi tersebut merupakan peristiwa iman umat Katolik dalam menghormati Bunda Maria sebagai Bunda Gereja dan Bunda Tuhan Yesus Kristus. Menurutnya, kehadiran Bunda Maria dimaknai sebagai sosok yang menemani perjalanan hidup umat manusia serta membawa sukacita dan pengharapan.
Prosesi Maria Assumpta Nusantara mengusung tema Festival Golo Koe 2026, yakni “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan”. Rangkaian ziarah dilakukan melalui jalur laut dan darat, melibatkan 12 kapal pinisi serta puluhan kapal motor ketinting sebelum dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Gua Maria Bukit Golo Koe.
“Allah sudah menciptakan alam dan bumi dan segala isinya bukan hanya darat, tapi juga laut. Maka penting juga supaya Bunda Maria berziarah bukan hanya di darat, tapi juga di laut. Itu pesan penting kenapa bukan hanya darat, tapi juga laut,” katanya.
RD Yohanes menegaskan, prosesi tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan pariwisata Labuan Bajo. Ia mengatakan, pariwisata tidak hanya harus dilihat dari sisi ekonomi, tetapi juga dari tanggung jawab bersama untuk menjaga alam agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang.
“Labuan Bajo itu hidup dari pariwisata. Maka ini menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya Gereja, pemerintah, tetapi semua masyarakat termasuk pelaku bisnis untuk merawat alam ciptaan yang ada, baik di darat maupun di laut,” ujarnya.

Prosesi dimulai sekitar pukul 15.30 WITA dari Kapela Stella Maris. Patung Bunda Maria kemudian diarak melalui jalur laut menuju Waterfront City Marina Labuan Bajo sebelum dilanjutkan dengan prosesi darat melewati Jalan Soekarno-Hatta dan sejumlah wilayah permukiman.
Keberagaman budaya juga tampak dalam prosesi tersebut. Etnis Lamaholot turut mengiringi Patung Bunda Maria di kawasan Kampung Ujung, sementara etnis Ngadha-Bajawa menyambut kedatangan rombongan di Waterfront City Marina melalui Tarian Ja’i.
Keterlibatan masyarakat pesisir juga menjadi bagian dari pesan “Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis”. RD Yohanes mengatakan, prosesi tersebut diharapkan menjadi simbol kebersamaan seluruh masyarakat Manggarai Barat.
“Bukan hanya Gereja Katolik, tapi semua masyarakat Manggarai Barat yang ada di Labuan Bajo, baik yang ada di pesisir maupun yang ada di darat. Itu pesan kenapa kami juga melibatkan semua kita yang ada di Labuan Bajo, termasuk saudara-saudari yang ada di pesisir,” ucapnya.

Setelah prosesi darat, rombongan melanjutkan peziarahan hingga Gua Maria Bukit Golo Koe untuk mengikuti ibadat penutup. Festival Golo Koe 2026 sendiri masuk dalam jajaran Top 10 Kharisma Event Nusantara (KEN) dan akan mencapai puncaknya melalui Perayaan Ekaristi Akbar Maria Assumpta di Waterfront City Labuan Bajo, Sabtu 15 Agustus 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....