Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, BMKG Waspadai Potensi El Niño

  • 19 Mar 2026 15:57 WIB
  •  Ende

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Indonesia akan datang lebih awal dari biasanya. Pergeseran ini dipicu berakhirnya fenomena La Niña Lemah dan potensi kemunculan El Niño pada pertengahan tahun.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan kondisi iklim global saat ini telah beralih dari La Niña Lemah ke fase Netral. Hal itu ditunjukkan dari nilai indeks ENSO yang berada di angka -0,28 dan diperkirakan bertahan hingga Juni 2026.

Menurutnya, peluang terbentuknya El Niño kategori Lemah hingga Moderat pada semester kedua tahun ini mencapai 50 hingga 60 persen. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola curah hujan dan mempercepat datangnya musim kemarau di sejumlah wilayah Indonesia.

Faisal menyebut, selain ENSO, faktor lain seperti Indian Ocean Dipole (IOD) juga turut diamati. Namun, IOD diprediksi tetap berada dalam fase Netral sepanjang tahun sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap dinamika iklim nasional.

Ia menjelaskan, tanda awal musim kemarau ditandai dengan peralihan angin baratan atau Monsun Asia menjadi angin timuran atau Monsun Australia. Pergeseran ini biasanya membawa massa udara kering yang menyebabkan berkurangnya curah hujan di banyak wilayah.

BMKG mencatat sebanyak 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian Kalimantan dan Sulawesi.

BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi pada Agustus 2026. Periode ini berpotensi menjadi fase paling kering yang perlu diantisipasi oleh berbagai sektor.

Masyarakat, terutama di wilayah rawan kekeringan dan kebakaran hutan, diimbau mulai melakukan langkah antisipatif. BMKG menekankan pentingnya pengelolaan air dan kewaspadaan terhadap potensi dampak iklim yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....